“Jalan Insentif” Memangkas Absensi Karyawan

Lebih dari seperempat pengusaha di Eropa menggunakan insentif untuk mendorong staf rajin masuk kerja tanpa absen sehari pun sepanjang tahun. Sementara, separo dari mereka juga menerapkan inisiatif-inisiatif promosi kesehatan sebagai upaya lebih jauh untuk memotong absensi sakit.

Survei yang dilakukan Mercer Human Resource Consulting atas 380 organisasi menemukan, sekitar 27% pengusaha menyediakan sarana penunjang seperti voucher dan bonus untuk mengurangi tingkat absensi karyawan.

Salah satu contoh paling nyata dari keberhasilan penerapan kebijakan insentif tersebut ditemukan di British Royal Mail. Pada 2004, tingkat absensi karyawan di perusahaan itu sangat buruk, yakni mencapai 6,5% dari total karyawan yang berjumlah 170 ribu (atau, sekitar 10 ribu orang).

Setelah perusahaan memperkenalkan kebijakan insentif sejak akhir Januari 2005, tingkat kehadiran karyawan naik 11 persen. Insentif yang ditawarkan berupa undian berhadiah voucher liburan, dan bahkan mobil baru, untuk mereka yang tidak pernah absen karena sakit.

Namun, tanggapan atas penyediaan insentif untuk menekan angka absensi karyawan tersebut bermacam-macam. Sejumlah perusahaan khususnya di Inggris tidak setuju jika karyawan yang sakit tetap didorong untuk masuk kerja. Bagi mereka, karyawan yang sakit akan lebih baik jika istirahat di rumah.

“Sejumlah perusahaan percaya bahwa dengan menyediakan insentif untuk mengurangi angka absensi, mereka telah mendorong karyawan yang jelas-jelas sedang sakit untuk tetap masuk kerja,” ujar Steve Clements dari Mercer.

Strategi Lain

Strategi lain yang diadopsi separo kalangan pengusaha untuk mengurangi tingkat absensi adalah dengan mengambil langkah-langkah proaktif melalui inisiatif-inisiatif. Seperti, pemeriksaan kesehatan, subsidi keanggotaan pada tempat-tempat kebugaran dan dukungan terhadap karyawan yang sedang berusaha berhenti merokok.

Yang cukup pelik justru, seperti tercermin dari perbedaan opini di kalangan pengusaha, bagaimana memastikan, karyawan yang absen itu benar-benar (karena) sakit atau hanya pura-pura (sakit).

Survei menemukan bahwa lebih dari seperempat responden percaya, kurang dari 20% absensi staf benar-benar berkaitan dengan kondisi sakit. Tapi, persentase yang sama berpikir bahwa lebih dari 80% karyawan absen (hanya) karena sakit ringan atau tidak benar-benar sakit.

Sebagai pembanding, survei lain yang dilakukan organisasi pengusaha terbesar di Inggris, CBI mengungkapkan bahwa pengusaha percaya, satu dari 8 karyawan absen karena pura-pura sakit dan mengalami “sakit rutin” pada awal atau akhir pekan.

Menurut Steve Clements, perbedaan sudut pandang kaum pengusaha tersebut menggarisbawahi fakta bahwa data tentang penyebab absensi karyawan memang masih diwarnai dugaan-dugaan.

“Tentu memang ada alasan kuat lain di luar sakit untuk tak masuk kerja. Tapi, survei mendapati sejumlah pengusaha mempertanyakan berapa banyak karyawan yang absen dengan penyebab yang jelas.”

“Bagi sejumlah organisasi, penyebab utama kehilangan jam kerja bukanlah absen jangka panjang tapi absen pendek yang sering. Data yang lebih baik akan membantu perusahaan mencapai target inisiatif-inisiatif terkait absensi secara lebih efektif, dan memungkinkan para manajer mengelola isu ini dengan lebih baik,” simpul Clements.

Tags: