IPC, Membawa Pelabuhan Indonesia Berjaya di Kancah Global

RJ Lino, Pelindo 2

Sebuah transformasi besar terjadi di tepi Jakarta Utara, tepatnya di pelabuhan Tanjung Priuk yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia II (IPC). Secara kasat mata terlihat bahwa infrastruktur memang berubah, seperti fasilitas dan bangunan. Namun, lebih dari itu, RJ Lino, Direktur Utama IPC memaparkan bahwa ada dua tipe infrastruktur yang harus diperbaiki, yang pertama adalah soft infrastructure dan kedua adalah hard infrastructure. Bangunan dan tangible asset yang bisa kita lihat, itulah yang disebut sebagai hard infrastructure. Sedangkan soft infrastructure meliputi timeliness, logistik yang berkualitas dan berkompetensi, shipment, tracking dan tracing juga custom.

“Infrastruktur yang berupa bangunan, tiga tahun kita bisa mengubahnya. Akan tetapi soft infrastruktur itu sulit, karena kita itu menyangkut manusia,” ungkap RJ Lino.

Dimulai dari tahun 2009 sebagai starting point, IPC menjalankan beberapa tahap perubahan. Untuk tahun 2012, transformasi difokuskan pada pertumbuhan kapasitas Indonesia, selanjutnya tahun 2013 fokus pada operational excellence, customer centricity pada 2014 dan Quantum leap akan menjadi agenda pada tahun 2015. Ada banyak pelajaran yang kita peroleh dari sepanjang jalan transformasi yang dilakukan oleh IPC.

RJ Lino mengungkapkan bahwa 70% shipment impor-ekspor dilakukan melalui Tanjung Priuk. Dan selama ini, dunia melihat pelabuhan Tanjung Priuk adalah pelabuhan dengan fasilitas yang kurang baik, pelayanan yang tidak memuaskan dan sebagainya.

Image tersebut yang harus diubah. Salah satu caranya adalah dengan mengirim talent-talent IPC untuk mengambil master di berbagai Universitas unggulan luar negeri. Mereka juga difasilitasi untuk mengambil benchmark pelabuhan di luar negeri, untuk mendapatkan gambaran yang real tentang perkembangan pelabuhan di dunia.

People memang menjadi prioritas utama dalam transformasi IPC. Utamanya adalah mempersiapkan karyawan IPC menjadi leader yang kompeten, baik saat ini maupun di masa depan.

“Saya kembali masuk ke IPC stelah 19 tahun meninggalkan perusahaan tersebut. Selama itu, ternyata tidak terjadi banyak perubahan, terutama kapasitas orang-orangnya. Kalau saya bilang, perusahaan apapun berdosa kalau sampai membiarkan karyawannya tidak memperoleh kesempatan untuk berkembang,” RJ Lino menjelaskan.

Baginya, yang terpenting bukan hanya memberikan edukasi bagi karyawannya, karena hal itu hanya akan menambah kompetensi, bukan attitude. Lebih penting dan lebih rumit dari itu adalah mengolah mindset atau cultivate people mindset. IPC berusaha melakukan hal tersebut dan tengah mempersiapkan gen Y untuk menjadi leader tangguh di tahun 2020 nanti.

Secara garis besar, IPC mentransformasi Human Resources dari yang awalnya digambarkan berbentuk segitiga, menjadi bentuk diamond. Dari yang awalnya perbaikan diutamakan pada administrasi (40%), sekarang performance enhancement mendapatkan porsi yang lebih besar (40%), sedangkan administrasi menjadi 20% saja. Persentase yang sama (20% – red) juga dialokasikan untuk perubahan strategi dan transaksi. Sebelumnya transformasi, strategi hanya difokuskan sebanyak 5% dan transaksi 30%.

Tags: , , ,