Inovasi Indonesia Melorot Ke Peringkat 97

COIN FORUM 2015

Inovasi menjadi kata kunci untuk mampu meningkatkan daya saing perusahaan Indonesia di kancah internasional. Agar inovasi yang dilakukan perusahaan terarah, maka perlu diketahui faktor-faktor yang dapat mendukung dan menghambat terjadinya inovasi.

Ironisnya di Indonesia sendiri iklim berinovasi belum lagi bergairah seperti yang seharusnya. Tingkat inovasi Indonesia semakin merosot dalam beberapa tahun terakhir. Global Innovation Index (GII) 2015 menempatkan Indonesia pada peringkat 97, menukik dari posisi sebelumnya di peringkat 87 (2014) dan 85 (2013). Penurunan ini menjadi sinyal bahwa pelaku bisnis di Indonesia semakin tidak inovatif, bahkan tertinggal jauh dari negara-negara Asia pada umumnya.

COIN FORUM 2015

Hasil ini mengemuka saat PPM Manajemen menggelar Collaboration and Innovation (COIN) Forum, gelaran berkala yang diprakarsai oleh Center for Innovation and Collaboration (CIC), di Jakarta, awal pekan ini. Hadir dalam acara tersebut Dr. Arnold Sutrisnanto, National Research Council; M. Rahman Rustan, Corporate Secretary PT Biofarma (Persero) dan Widyarso Roswinanto, Head of Research Center, PPM Manajemen.

Terkait dengan melorotnya GII Indonesia, posisi Indonesia juga terpuruk di beberapa kriteria penting, antara lain kebijakan pemerintah untuk mendukung inovasi (peringkat 138), ekonomi biaya tinggi (137), pengeluaran dalam R&D (109), jumlah tenaga berpendidikan (138), serta publikasi teknis dan ilmiah (137).

Namun begitu, di tengah berbagai kelemahan daya saing dalam berinovasi, masih tersisa secercah harapan. Berita baiknya, Indonesia dinilai kuat dalam beberapa kriteria antara lain efisiensi dalam berinovasi (peringkat 42), riset kolaborasi industri/universitas (29), pembayaran royalti terhadap inovasi (40), pertumbuhan daya beli masyarakat (21), dan ekspor barang kreatif (22).

Dengan mengangkat tema “Surviving Tough Times with Innovation” dipaparkan kondisi pragmatis dari dunia bisnis yang sekarang sedang dihadapi. Widyarso menjelaskan ketika ditanya ‘jajaran manajemen manakah yang berpengaruh dalam perusahaan untuk berinovasi atau tidak?’, ternyata level middle management bisa dibilang yang signifikan berpengaruh dalam inovasi. “Karena melalui ‘ukuran’ tiga tahun berturut-turut 2013-2015, middle management selalu muncul untuk faktor yang mempengaruhi inovasi. Tapi bukan berarti ini menandakan bahwa level middle  management menjadi satu-satunya pihak yang memunculkan inovasi. Ini hanya menggambarkan bahwa level ini berperan aktif,” tambah Widyarso.

Dari forum dapat juga dipahami bahwa, sejatinya inovasi itu tidak melulu terkait dengan produk, karena ada empat hal yang saling berkontribusi untuk melihat daya inovasi sebuah perusahaan atau organisasi. Produk merupakan ujung utamanya, tapi inovasi bicara juga di proses; organisasi keseluruhan; juga bicara pada bagaimana pemasarannya. Keempat hal itulah yang bisa dillihat dari daya atau kapabilitas inovasi sebuah organisasi.

Itu senada dengan yang dikemukakan oleh Dr. Arnold, bahwa inovasi tidak bisa berdiri sendiri. “Tidak bisa sebuah produk langsung muncul begitu saja, baru. Tapi ada hal yang perlu juga dikolaborasikan seperti akademi, pelaku bisnis, pemerintah, komunitas, dan terakhir adalah media,” ujarnya.

COIN Forum digagas sebagai sebuah wadah bagi Pemerintah; Akademisi dan juga para Praktisi Bisnis untuk berkumpul dan berbagi mendiskusikan beragam alternatif solusi agar iklim berinovasi dan berkolaborasi dunia bisnis kembali bergairah.  Harapannya COIN Forum ini melahirkan beragam solusi yang multi-dimensi. Tidak hanya unggul dari aspek terobosan, namun juga kuat dalam menjalin kolaborasi.

Sedangkan CIC sendiri adalah sebuah Pusat Kajian milik PPM Manajemen, melakukan riset praktik inovasi perusahaan di Indonesia, yang mengacu pada OSLO Manual yang merupakan referensi manual yang dihasilkan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). OECD adalah forum kerjasama 30 negara maju yang sebagian besar berada di Eropa, yang bertujuan untuk mengembangkan ekonomi, sosial dan lingkungan dunia. (*)