Ini Kiat Menggabungkan Kreativitas dan Disiplin ala NET TV

hery kustanto

Seiring dengan perkembangan generasi di banyak industri, saat ini kehadiran young generation atau biasa disebut Gen Y mulai makin dirasakan. Hal ini pula yang dihadapi oleh NET TV, stasiun televisi nasional yang relatif baru masuk. Bahkan, NET memiliki karyawan yang mayoritasnya justru berasal dari Gen Y.

hery kustanto

Peta demografi Gen Y ini disampaikan oleh Hery Kustanto, Vice President of Corporate Servies Indika Group, PT Net Media Televisi dalam acara HR Thursday Talk yang diprakarsai Karircom dan PortalHR, di Jakarta, pekan lalu. “Saat ini di NET, 70% karyawannya adalah Gen Y dan mereka ini usianya rata-rata di bawah 30 tahun,” tutur Hery.

Mengelola Gen Y, imbuh Hery, memerlukan seni tersendiri yang diawali dengan mengerti dan mengenali karakter Gen Y. “Saya sendiri untuk menarik talent-talent yang mau bergabung, tentu perlu sesuatu yang atraktif, salah satu di antaranya kami menawarkan desain kantor yang menarik dan cocok untuk para anak-anak muda, dan suasana yang dibangun seolah tidak merasa seperti bekerja,” terang Hery. Kantor NET berlokasi di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta dengan luas 4.200 m² yang dieksplorasi dengan desain yang modern, alami dan terkesan bebas. Interior kantornya pun seolah menyesuaikan dengan moto NET yaitu kreatif dan menginspirasi.

Karakter-karakter Gen Y yang harus menjadi perhatian para praktisi HR, masih menurut Hery, secara umum di antaranya anak-anak muda ini melek teknologi, ambisius akan karir, haus perhatian, ruang privasi tak bersekat, pencitraan meski kadang tidak sesuai kenyataan, multi tasking, prinsip work hard-party hard, meski ada sisi kurangnya seperti loyalitasnya yang susah dipegang. Ciri-ciri yang disebutkan oleh Hery ini, relatif terjadi juga di NET. Selain mayoritas karyawan masih di bawah 30 tahunan, sebanyak 73% Gen Y ini menduduki posisi staf.

Dengan kondisi Gen Y mendominasi angkatan kerja, dalam mengelola HR Hery berpatokan dengan value yang dianut di NET, yakni integrity, respect, passion, dan team work. “Terjemahan dari value tersebut, misalnya dari awal ditekankan bahwa di NET dipegang idealisme untuk tidak masuk ke tayangan yang berdarah-darah, tidak ada gosip dan non partisan. Aturannya sih simpel, tapi maknanya dalam. Kamu boleh bikin program apa saja, dengan satu syarat keluargamu merasa layak menontonnya. Artinya, setiap karyawan diberikan kebebasan berekspresi namun ada rambu-rambu yang harus dipenuhi yaitu program tersebut layak dan membuat bangga keluarga,” terang Hery lagi.

Hery ingin menekankan dari sisi team work, ternyata bisa digabungkan antara kreativitas dengan disiplin. “Padahal kita tahu ini sebenarnya kontradiktif, orang-orang kreatif itu paling susah diatur. Tapi ternyata bisa. Inilah yang ditularkan CEO kami, Wishnutama yang ia memiliki latar belakang pendidikan militer. Contohnya kalau ada karyawan di bagian produksi tidak memakai seragam atau name tag, itu akan diumumkan melalui email dan semua orang akan tahu. Kalau sampai tiga kali akan kena SP-1, dan ini ternyata jalan dan tidak ada yang berani melanggar. Bahkan termasuk yang sedang live di layar kaca pun, ini akan dipelototin dan dilihat apakah ia disiplin atau tidak,” jelas Hery.

Filosofi kedisiplinan yang diterapkan di NET ini, Hery menerangkan, “Kita berpegangan pada prinsip bahwa tidak ada orang sukses yang tidak disiplin. Tidak ada dan tidak mungkin karena itu akan melanggar hukum alam. Setelah disiplin ditegakkan, maka urusan kreatif tinggal dipoles saja. Di NET sendiri kreatif tidak harus original, tapi bagaimana mengemasnya dalam bentuk lain yang berbeda, menjadi sesuatu yang menarik, serta menjadi sesuatu yang menginspirasi. Kuncinya, perlu komitmen yang kuat dari top management.”

Hery juga menjelaskan untuk mengidentifikasi talent, NET mempunyai Media Development Program (MDP), semacam management trainee (MT) di kebanyakan perusahaan. MDP ini diterapkan khusus untuk karyawan-karyawan yang baru masuk. Di awal proses, talent yang masuk harus lolos test dan taste yang ini merujuk pada culture organisasi. Pada saat pertama masuk kerja, karyawan akan mendapat project assignment, semacam tantangan untuk membuat program yang kreatif. Kemudian dilakukan performance appraisal yang dilakukan dua kali dalam setahun. “Kalau hanya sekali rasanya terlalu lama karena yang dihadapi anak-anak muda dan mereka ini pinginnya cepat. Gen Y itu malah pinginnya setahun sudah bisa menjadi manajer,” papar Hery.

Yang menarik dalam hal disiplin, lanjut Hery, manajemen NET memandang tidak ada pilihan lain kecuali untuk menjalankan program pelatihan semi militer. Tentu saja di awal, komunikasi dan kemasan program ini disampaikan dalam bahasa yang menarik. Setelah mengikuti training kedisplinan ini, para talent ini akan terus dipantau perkembangannya, dirancang induction program yang sesuai, dan dilihat bagaimana cara kerja si talent tadi.

Di NET ada semacam doktrin bahwa ‘zero mistake is not enough’, ini untuk memicu karyawan NET untuk tidak takut membuat kesalahan, tapi yang penting bisa belajar dari kesalahan dan berubah menjadi lebih baik. Untuk maintain karyawan yang kebanyakan Gen Y, Hery menunjukkan di NET ada semacam tempat outdoor untuk refreshing jika karyawan merasa penat dalam bekerja.

Hery juga memberikan contoh dari proses yang diterapkan di NET, kini sudah mulai terlihat bibit-bibit future leader. Ia bercerita, “Ada dua orang yang ia masuk dua tahun lalu dan kini sudah menduduki posisi junior producer, melewati tahapan karir dari junior reporter, reporter, dan senior reporter.”

Lantas dengan masuknya Gen Y di dunia kerja ini, Hery menyebutkan beberapa issue yang dihadapi NET. Pertama, Gen Y itu cenderungnya cepat dalam segala hal. Kedua, Gen Y mudah resign jika menganggap lingkungan kantor tidak kondusif yang biasanya dipicu dari hubungan atasan dan bawah yang tidak harmonis. Keempat, mindset bahwa bekerja di tv itu identik dengan glamour. Keempat, adanya gap komunikasi karena beda usia. Kelima, employeer branding perusahaan itu harus kuat, kalau tidak anak-anak muda mana ada yang akan tertarik.

Penting untuk HR, sambung Hery, memahami Gen Y itu sebenarnya apa sih maunya. Pertama, HR sekarang ini jangan terlalu birokratis, kedua semua serba online, dan ketiga definisikan ulang bagaimana cara berkomunikasi, bagaimana cara sopan santun di era sekarang ini, dan satu hal yang penting buat orang HR, jangan mudah tersinggung. “Kalau orang HR tidak mau berubah, ini hanya akan membuat semakin berjarak,” pesan Hery. (*/@erkoes)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,