Imbas Social Media, P&G Lay Off 1.600 Karyawan

Old Spice P&G

DAMPAK yang dihasilkan dari sebuah social media memang susah ditebak. Banyak individu-individu sukses dan membalikkan kehidupannya, berbalik 180 derajat hanya setelah ia mengunggah video di YouTube. Hal ini tampaknya merembet kepada korporasi.

Adalah tayangan iklan komersial berjudul Old Spice, yang diunggah oleh tim kreatif P&G berhasil merebut jumlah impresi yang luar biasa. Iklan tersebut dilihat oleh tak kurang sebanyak 1,8 miliar kali penduduk di seluruh dunia. Meski berhasil dari sisi menggaet prospek yang dibidik, imbas lain dari kesuksesan iklan tersebut kini menjadi momok bagi para karyawan P&G.

Pasalnya, manajemen berencana memecat 1.600 karyawan. Rupanya P&G yang selama ini dikenal sebagai pemasar terbesar di dunia dengan anggaran iklan US$ 10 miliar, dihadapkan pada realitas bahwa jumlah anggaran iklan per tahunnya telah ‘menyakiti’ margin perusahaan.

P&G mengatakan, seperti dikutip businessinsider.com, akan memberhentikan 1.600 staf, termasuk pemasar, sebagai bagian dari pemotongan biaya. CEO P&G, Robert McDonald mengakui pihaknya tidak bisa terus menerus meningkatkan anggaran iklan P&G, terlepas dari apa yang terjadi pada penjualan. Menarik disimak, McDonald mengatakan kepada para analis di Wall Street bahwa ia harus melakukan langkah “moderat” terhadap anggaran iklan karena Facebook dan Google kini menjadi “lebih efisien” ketimbang media tradisional yang biasanya memakan porsi terbesar dari anggaran iklan P&G.

McDonald juga menyebutkan alasan lain bahwa ia punya pengalaman tidak mengenakkan dengan media konvensional. Gara-garanya, rencana peluncuran produk terbarunya Tide Pods, yang digadang-gadang dengan anggaran iklan yang tidak sedikit, yakni sebesar US$ 150 juta mengalami penundaan. Masalahnya, jeda penundaan ini dimanfaatkan dengan sangat cepat oleh para pesaingnya untuk mengeluarkan produk sejenis ke pasar. Inilah kenapa McDonald mulai kepincut dengan iklan di ruang digital.

Kesuksesan P&G memanfaatkan iklan di social media, bisa jadi memang menjadi contoh sukses yang harus ditiru oleh banyak perusahaan. Akan tetapi kalau imbasnya harus memecat 1.600 karyawannya, tentu ini akan menjadi pekerjaan tersendiri buat para praktisi HR. (rudi@portalhr.com/@erkoes)

Tags: ,