HUT Kemerdekaan, Apa Maknanya Bagi Para Profesional?

Puncak perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-60 baru saja berlalu. Bendera-bendera kecil dan umbul-umbul aneka warna masih berkibar di sepanjang jalan, dari protokol hingga gang-gang. Gegap gempita suasana pesta tinggal sisa-sisa. Yang menang lomba dapat piala, yang kalah dapat lelah. Tapi, semua senang. Bagi para tenaga kerja profesional di perusahaan-perusahaan yang setiap hari tenggelam dalam kesibukan dan mobilitas yang tinggi, apa makna kemeriahan itu?

“Masih sebatas seremonial sih, ya. Seremonial banget,” itulah yang pertama kali terlontar dari bibir Fara Maswarani, research manajer PT Fortune Indonesia. “Saya tidak terlalu memaknai kemerdekaan terlalu muluk-muluk,” sambung dia. Fay demikian sapaan akrab lajang berusia 30 tahun itu- tidak melihat adanya makna khusus yang bisa menghubungkan antara HUT kemerdekaan dengan eksistensinya sebagai seorang profesional di bidang periklanan.

Padahal, menurut dia, mestinya momen berharga ini bisa dijadikan sarana oleh perusahaan, misalnya untuk mengisi-ulang semangat kerja dan memacu produktivitas sumber daya manusianya. “Misalnya saja, gimana caranya kita semangat. Sayangnya, tidak pernah ada kalau hari kemerdekaan terus perusahaan mengaitkan dengan kita, tidak pernah dimotivasi juga,” ujar dia.

Fay menganggap, masih cukup penting dan bermanfaat seandainya perusahaan mau membuat acara untuk menyambut hari kemerdekaan, meskipun sekedar lomba atau permainan. “Di kantor saya yang di McCann dulu, tiap tujubelasan ada acara di kantor, yah kayak acara tujubelasan biasa di kampung-kampung, tapi paling tidak kita dibebasin hari itu. Biar besok kalau kembali kerja lagi, sudah dapat semangat baru,” tandasnya membandingkan.

Secara pribadi, Fay sendiri tak memperlakukan hari kemerdekaan secara lebih istimewa ketimbang hari-hari lain. “Paling nonton tujubelasan di kampung tempat tingga saya,” kata dia seraya buru-buru menambahkan, “Bukan berarti saya tidak menghargai kemerdekaan.” Lebih detail, Fay memperjelas dengan nada serius, “Maksud saya gini, buat saya kemerdekaan itu is all about free will. Tapi, selama ini kita susah banget punya free will di wilayah kerja. Susah buat mengekspresikan free will-nya, meskipun gue kerja di bidang kreatif yang katanya lebih fleksibel. Padahal free will itu kan sudah ada dari kita lahir.”

Bisa Libur Panjang

Berbeda dengan Fay yang agak serius, profesional lain bernama Venerdi Handojo menjawab pertanyaan tentang makna HUT Kemerdekaan dengan jenaka. “Itu adalah momen dibacakannya sebuah pidato paling pendek tapi paling penting bagi negara ini, sebuah pelajaran bagi negarawan saat ini agar tidak membuat naskah pidato yang terlalu panjang dan membuat banyak orang mengantuk.”

Dan, dengan skeptis script editor pada rumah produksi Multivision itu langsung menjawab “tidak” ketika ditanya, apakah momen HUT kemerdekaan bisa menjadi pemacu semangat untuk meningkatkan produktivitas di tempat kerja. Namun, tak berselang lama, lajang berusia 30 tahun itu tiba-tiba seperti teringat sesuatu, dan kemudian meralat jawabannya. “Eh, ada pengaruhnya ding. HUT kemedekaan kali ini membuat saya semangat menyelesaikan semua tugas supaya bisa libur panjang dengan tenang,” ujar penulis skenario film Buruan Cium Gue yang sempat diprotes dai kondang AA Gym beberapa waktu lalu itu.

 

Tags: