Hubungan dengan Manajer Pengaruhi “Engagement”

Kualitas hubungan dengan manajer merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat engagement karyawan dan produktivitas. Masalahnya, dalam berbagai studi berskala nasional, proporsi engagement karyawan umumnya rendah.
Demikian antara lain benang merah yang bisa ditarik dari workshop “Understanding & Succesfully Implementing Employee Engagement Survey” yang digelar OTI di Financial Club, Jakarta, Rabu (14/4/2010).
Master Trainer pada OTI Ajai Singh mengungkapkan, sebuah studi terkenal yang diumumkan pada 1999 menghasilkan komposisi angka-angka sebagai berikut: 19% Actively Disengaged, 55% Disengaged, dan 26% Engaged. “Ini mengkhawatirkan,” ujar dia.
Menurut Ajai, karyawan yang “engaged” adalah yang tahu apa yang diharapkan oleh perusahaan dari dirinya. “Siapa yang mestinya paling tahu apa yang harus kita kerjakan? Manajer atau kita sendiri?” tanya Ajai retoris. “Manajer tugasnya lebih sebagai pendorong agar karyawan melakukan yang terbaik atau lebih baik,” sambung dia.
Lebih jauh Ajai memaparkan apa yang dia sebut sebagai formula “Three C” bagi manajer agar bisa menciptakan engangement dan kepuasan pada karyawannya. Yakni, Clear, Considerate dan Collaborative.
“Clear, artinya harus ada kejelasan antara visi dan misi perusahaan dengan kerja individu. Considerate, seorang pemimpin harus mampu memperlihatkan kepedulian dan menghargai dengan cara mendengarkan aspirasi karyawan. Dalam hal ini, dituntut juga untuk memberi pengakuan dan penghargaan bagi setiap prestasi anak buah,” jelas Ajai.
“Sedangkan Collaborative mengandung makna bahwa seorang manajer harus fokus pada pengelolaan, yakni bagaimana melibatkan karyawan dalam berbagai pengambilan keputusan,” sambung dia.
Intinya, Ajai menyimpulkan, karyawan yang “engaged” memiliki kebanggaan dalam bekerja untuk atasannya, dan termotivasi melakukan sesuatu lebih dari yang diperintahkan oleh bos.

Tags: