HR Sebaiknya Kembali ke Dasar

Jika para praktisi profesional departemen HR berpikir merekalah “pemilik” orang-orang yang menjalankan bisnis perusahaan, maka ada baiknya mereka berpikir sekali lagi. Sebab, pucuk-pucuk pimpinan manajemen menginginkan tim HR mereka tak terlalu menghabiskan banyak waktu untuk pengembangan karyawan.

Dan, tim HR diharapkan untuk lebih memikirkan bagaimana perusahaan berhasil mencapai deal dengan dan menarik pelanggan. Dewasa ini, HR tak henti-hentinya mengumandangkan tuntutan untuk “duduk sama tinggi dengan dewan direktur”. Tapi, apa yang mereka pikir penting sering sangat berbeda dengan apa yang dilihat sebagai prioritas oleh para pimpinan perusahaan.

Riset yang dilakukan lembaga pelatihan dan pengembangan The Ken Blanchard Companies menemukan kesenjangan yang terus berlanjut antara prioritas-prioritas HR dan bisnis yang lebih luas. Sehingga, menimbulkan tanda tanya besar apakah HR bisa benar-benar “naik pangkat” menjadi mitra bisnis.

Menjawab pertanyaan mengenai pengembangan karyawan, survei yang melibatkan 1000 orang profesional bidang HR dan pelatihan tersebut menemukan, HR menempatkan pengembangan eksekutif dalam prioritas yang lebih tinggi dibandingkan yang diprioritaskan oleh top management sendiri.

Dalam hal ini terjadi kontras di mana kepedulian manajemen lebih tertuju kepada teknologi informasi dan keterampilan-keterampilan untuk menjual. Pimpinan manajemen juga menempatkan “keterampilan merayu pelanggan” sebagai kebutuhan pengembangan karyawan yang paling penting sesuatu yang dalam benak HR hanya menempati prioritas ke-4.

Sementara, perbedaan juga terjadi dalam “menciptakan SDM yang terikat dengan perusahaan”. Jajaran top management menganggap hal itu sebagai tantangan manajemen terpenting, sedangkan HR merasa bahwa yang terpenting adalah “menyeleksi dan mempertahankan talent”.

Untuk ke depan, selain persaingan yang makin intensif, diprediksikan bahwa isu-isu seputar teknologi akan makin penting, seiring dengan tuntutan untuk fokus pada seleksi dan retensi talent kunci, rencana suksesi dan peningkatan inovasi. Sebaliknya, isu-isu seputar kapasitas kepemimpinan dan “menciptakan SDM yang terikat” akan menjadi area yang kurang diperhatikan.

Tags: