HR Perlu Sederhanakan Bahasanya ke CEO

Salah satu bagian yang paling sulit dari peran HR adalah menjadi mitra strategis bagi pimpinan bisnis. Di satu sisi, di mata CEO orang HR dianggap tidak mengerti bisnis, dan di sisi lain kalangan CEO sendiri banyak yang tidak paham istilah-istilah teknis HR. Oleh karenanya orang HR diharapkan menyederhanakan bahasanya ketika berbicara dengan CEO.

“Orang HR jadi terkesan nggak ngerti bisnis padahal sebenarnya mereka ngerti, cuma cara komunikasinya yang terlalu teknis,” ujar Vice President Director PT United Tractors Tbk Paulus Bambang WS dalam acara “Good Morning Partner”: HR Executive Breakfast Meeting di Hotel Mid Plaza, Jakarta Rabu (14/5/08).

“Eksekutif dan jajaran operation itu hanya tahu yang simpel-simpel,” tambah dia seraya memberi contoh, kalau CEO menanyakan prestasi seorang karyawan kepada orang HR, maka jawaban yang diharapkan sejelas mungkin, misalnya bagus atau tidak tanpa embel-embel lagi. “(Orang HR) harus berani dan tegas mengambil keputusan, orang ini bagus atau tidak, itu saja, bukannya bagus tapi masih bisa dipoles.”

Lebih jauh Paulus mengatakan, banyak orang HR yang suka membuat ruwet sesuatu yang sebenarnya bisa disederhanakan. Dicontohkan, untuk memotivasi karyawan, orang HR membuat program-program pelatihan padahal dengan turun ke lapangan dan melihat langsung suasana kantor. “Bisa saja sebenarnya masalahnya cuma ruangan yang terlalu panas, atau sistem kerja dan insentif yang perlu diubah,” ujar penulis buku laris Built to Bless yang sebelumnya berpengalaman di bidang HR tersebut.

Paulus mengingatkan, menjadi orang HR banyak sekali keuntungannya. “Saya punya banyak kesempatan belajar tentang berbagai hal ketika duduk di HR. Dan, orang HR itu paling bisa diterima karyawan.”Oleh karenanya, Paulus yakin, orang yang sukses memimpin HR akan mampu memimpin departemen apapun. Ada dua hal penting yang ditekankan Paulus kepada segenap orang HR, yakni, jangan takut bereksperimen dan jangan meng-underestimate diri sendiri.

Tags: ,