HR Harus Siap Atasi Krisis Talent Global

Mobilitas kaum pekerja di level global terus meningkat. Banyak profesional yang “lari” ke luar negeri, ke negara-negara maju yang menjanjikan gaji sangat tinggi. Sehingga, terjadi krisis talent terutama di negara-negara berkembang yang membutuhkan uluran tangan dan perhatian orang HR untuk mengatasinya.
Studi atas 5000 profesional HR yang dilakukan Adecco Institute di Inggris menyimpulkan, kelangkaan skill yang terus meningkat di berbagai penjuru dunia akan menuntut orang HR untuk meninjau kembali peran mereka sebagai manajer talent jangka panjang, terutama atas skill pekerja.
Lebih jauh diingatkan, lebih dari sekedar mencari kandidat untuk mengisi lowongan kerja, HR akan semakin dituntut untuk terlibat dalam perencanaan organisasi jangka panjang atas kebutuhan-kebutuhan ketenagakerjaan.
Di samping itu, sukses atau gagalnya perusahaan dalam mengelola talent akan menjadi faktor pembeda yang penting dan nilai jual yang unik dalam pasar global.
“Peran baru manajemen HR ini merupakan konsekuensi dari munculnya tiga tren, yakni globalisasi, demografi dan kelangkaan skill,” ujar Direktur Pengelola Adecco Institute Donna Murphy.
Dijelaskan, globalisasi di negara-negara berkembang menaikkan permintaan atas tenaga kerja berketerampilan dan berkualitas tinggi, sementara pada saat yang sama permintaan atas tenaga kerja tidak terlatih terus menurun.
Gejala tersebut kemudian bertemu dengan efek demografi peningkatan populasi tenaga kerja yang menua, terutama di negara-negara Barat. Dalam waktu sepuluh tahun, mayoritas orang Eropa akan berusia di atas 40, dan di AS populasi pekerja berusia 55 tahun ke atas diproyeksikan meningkat 47%
Pendek kata, ketika permintaan (atas tenaga kerja) global meningkat, persediaan justru akan menurun. Akibatnya, perusahaan-perusahaan akan semakin bersaing dalam mendapatkan talent terbaik.
“Jika di masa lalu sukses bisnis utamanya terletak pada isu memenangkan kompetisi dalam pelayanan konsumen, maka di masa datang sukses bisnis akan semakin tergantung pada keberhasilan perusahaan memenangkan kompetisi dalam memperebutkan karyawan berkualitas,” ujar Murphy.
“Dan, itu akan memposisikan manajemen HR sebagai salah satu faktor terpenting bagi perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas,” tambah dia.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, menurut Murphy, para praktisi HR harus meninggalkan budaya “untuk kepentingan sesaat” dalam merekrut karyawan, dan mulai berpikir jangka panjang dalam konteks kebutuhan perusahaan akan SDM berketerampilan.
Sejauh ini, survei mendapati, rata-rata perencanaan HR hanya berjangkauan 1,1 tahun ke depan.

Tags: ,