HR Harus Mampu Mengelola Kesinambungan Daya Saing Perusahaan

Daya saing (competitiveness) adalah kata kunci bagi perusahaan yang ingin bertahan di era sekarang ini. Salah satunya dengan inovasi. Namun, jika semua perusahaan telah melakukan inovasi yang kreatif, bukankah competitiveness itu sendiri lantas menjadi standar? Di sinilah pentingnya kesinambungan.

“Peniruan, substitution…itu bisa mementahkan daya saing karena produk dan kualitas suatu barang atau jasa menjadi mirip atau sama. Untuk itu diperlukan sustainable competitive advantage,” ujar Direktur Power Generation GE Energy Handry Satriago dalam HR Director Forum yang digelar oleh Majalah Human Capital di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (29/1/08).

Handry mengingatkan bahwa inovasi sebagai ujung tombak untuk menciptakan daya saing perusahaan harus senantiasa dikelola keberlanjutannya. Sebab, bisnis tak pernah berhenti menuntut sesuatu yang lebih: lebih cepat, lebih murah, lebih bagus, dan akhirnya memerlukan aksi yang lebih cerdas.

“Perubahan itu merupakan tantangan, sekaligus kesempatan. Di saat sulit kadang orang justru terpikir sesuatu yang tak terduga. Di sinilah arti pentingnya strategi,” kata dia.
“Bikinlah sesuatu yang unik, yang tidak bisa ditiru pihak lain, nah itu yang namanya strategi,” tambah Handry mencoba memberikan ilustrasi. Lebih jauh contohkan, kenapa orang bersedia datang lagi dan bahkan rela mengantri di warung soto yang tempatnya panas dan sama sekali tidak nyaman?”Karena rasa soto di situ memang tidak bisa didapatkan di tempat lain, ibaratnya orang rela mati untuk memperolehnya.”

Dari khasanah bisnis modern, Handry menyebut Starbucks sebagai contoh strategi daya saing. “Bagi penikmat kopi sejati, Starbucks mungkin dinilai tidak enak, tapi yang mereka jual memang bukan kopi melainkan pengalaman dan gaya hidup minum kopi.””Ada juga perusahaan yang menjual expensiveness sebagai strateginya, misalnya HP Vertu, tas Louis Vuitton…jika dijual murah orang justru tidak akan mau membelinya,” tambah dia.

Handry menyimpulkan bahwa keunikan (produk atau jasa) merupakan pilar utama dari daya saing. Ibarat burung merak yang tidak bisa terbang dan jalannya pun lamban, tapi karena sosoknya cantik dengan ekornya yang mekar indah, ia mampu bertahan karena para predator “merasa sayang” untuk memasangnya. “Jadi, handycap itu penting untuk meningkatkan daya saing, dan semua itu pada akhirnya hanya bisa dieksekusi oleh people, sehingga HR harus mampu mencari dan mendapatkan orang-orang yang kreatif dan inovatif,” tandas dia.

Selain itu, Handry juga mengajak semua pihak untuk meningkatkan kesadaran pelaku bisnis, terutama skala kecil dan menengah, akan pentingnya memiliki keunggulan daya saing. Selanjutnya, kesadaran itu tentu perlu diiringi dengan kemauan perusahaan untuk berinvestasi pada pendidikan, riset dan inovasi.

Tags: