HR Harus Fokus pada Hasil yang Memberi Nilai Tambah

Mahaguru bisnis yang menjadi rujukan orang HR seluruh dunia Dave Ulrich menyerukan agar para pimpinan dan segenap praktisi HR untuk lebih tanggap dengan isu-isu bisnis agar mampu memberikan nilai yang nyata. Berbicara di konferensi internasional tahunan Pricewaterhouse Coopers (PwC) di Roma, Ulrich menekankan kepada 400 praktisi HR untuk fokus pada “hasil terbaik”. Yakni, apa yang mereka berikan untuk organisasi dan konsumen (karyawan), ketimbang apa yang mereka lakukan bagi departemen mereka sendiri.

Penulis buku HR Champion itu juga menyarankan agar HR menyumbangkan pendapat mengenai perubahan-perubahan eksternal, utamanya yang menyangkut teknologi, tren ekonomi dan demografi, dan agar memahami harapan-harapan bisnis CEO mereka.
“Tantangan dalam HR bukanlah apa yang kita lakukan, tapi apa yang kita berikan dalam usaha kita untuk menyumbangkan nilai tambah,” ujar dia. “Bertahun-tahun kita hanya terlalu fokus pada apa yang kita lakukan. Dunia HR bagi masa depan sebaiknya tidak mulai dengan HR melainkan mesti dimulai dengan hasil dari HR,” tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama Ulrich juga menyeru kalangan HR untuk menimbang kembali bagaimana mereka bisa memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki untuk membantu para pimpinan bisnis mereka. Menurut dia, “bagus-bagus saja” jika orang HR berdiskusi dengan CEO mengenai program-program pelatihan, rekrutmen dan sebagainya. Namun, dia menandaskan, akan jauh lebih baik jika HR langsung melangkah dengan hasil, yakni bagaimana memberikan nilai tambah kepada karyawan yang merupakan barisan terdepan agenda bisnis.

‘Penting bagi HR untuk membuat karyawan dan investor fokus, jangan berpikir apa yang akan terjadi melainkan apa realitas di luar sana yang akan dihadapi perusahaan dalam sepuluh tahun ke depan,” tegas Ulrich. Survei tingkat dunia yang dilakukan PwC menemukan bahwa 89% dari 1.150 CEO menyebut “isu-isu people management” merupakan prioritas utama mereka saat ini.

Sementara, 43% percaya bahwa departemen HR mereka mampu mempertahankan talent terbaik yang dimiliki perusahaan. “CEO butuh bantuan untuk menghadapi isu-isu SDM, pastikan staf di departemen HR mampu melakukannya. Tapi, saya masih melihat orang HR mengatakan, Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan (kepada CEO saya), saya akan menunggu saja.”
Ulrich menandaskan, HR harus memiliki sudut pandang menengenai isu-isu bisnis. Diungkapkan, rintangannya bukanlah para manajer lini melainkan orang-orang di departmen HR sendiri.

Tags: