HR Hadapi Tantangan Ganda pada 2009

Krisis ekonomi yang diramalkan akan terus berlanjut pada 2009, dengan berbagai dampaknya, akan memberikan tantangan ganda bagi departemen HR di perusahaan. Yakni, bagaimana menghemat biaya-biaya, sekaligus pada saat yang sama harus tetap mampu memotivasi talent-talent utama dengan penghargaan yang selayaknya.
Direktur Fakultas pada Human Resources Policy Institute, AS Fred Foulkes mengingatkan, orang HR harus berada di barisan depan dalam menghadapi resesi ekonomi. “Ini benar-benar akan menjadi saat yang menantang dan memusingkan bagi para eksekutif bidang SDM,” ujar profesor pada Sekolah Manajemen Universitas Boston itu.
“Orang HR akan dipaksa melakukan banyak hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan, misalnya mem-PHK karyawan, atau memendekkan pekan kerja,” papar dia.
Foulkes menyimpulkan, pada dasarnya HR akan menghadapi tantangan ganda, yakni menghemat biaya sekaligus tetap memberi penghargaan dan memotivasi karyawan-karyawan terbaik.
“Orang-orang yang berprestasi, tak peduli situasi ekonomi sedang sulit, tetap memiliki kesempatan besar,” kata dia. “Kebutuhan bagi mereka akan pengembangan kepemimpinan dan rencana suksesi tidak berhenti.”
Sementara itu, Direktur Pusat Studi HR pada Wharton School Universias Pennsylvania, Philadelphia Peter Cappelli mengingatkan, perusahaan perlu menahan diri dan berhati-hati dalam mengambil keputusan berkaitan dengan situasi akibat krisis finansial global.
“Berhentilah membuat keputusan, atau pikirkan dampak biaya dan manfaat dari berbagai keputusan penting yang diambil,” kata dia.
Dalam situasi sulit, banyak eksekutif HR yang cenderung melakukan apa yang banyak dilakukan oleh perusahaan lain. “Itu salah,” kata Cappeli. “Cobalah untuk tidak meniru apa yang dilakukan orang lain. Bisa jadi apa yang mereka lakukan tidak relevan dengan perusahaan Anda.”
Yang paling sulit adalah jika perusahaan terpaksa mem-PHK karyawan. Namun, Presiden pada Employee Benefit Research Institute, Washington Dallas Salisbury percaya bahwa pilihan terbaik adalah HR tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk mempertahankan karyawan.
“Kita harus mengambil langkah yang dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah maksimum karyawan kita selama masa sulit, dan dengan itu berarti kita siap menghadapi krisis,” tandas dia.
Direktur Riset pada perusahaan konsultan dan riset IT Gartner di Stamford, Thomas Otter sepakat dengan hal itu. Bahwa, HR harus siap “memberikan solusi-solusi manajemen talent yang relavan, tapi juga harus tetap mempertimbangkan pertumbuhan ke depan.”
“Belajarlah untuk berpikir lebih analitik, mulailah dengan memahami biaya-biaya nyata dari pengurangan karyawan,” saran Otter.

Tags: