Hari Buruh Diperingati di Berbagai Kota

Hari Buruh yang jatuh pada hari ini, Jumat (1/5/09) diperingati di berbagai kota dengan aksi turun ke jalan. Di Jakarta tercatat tak kurang dari 19 demo kaum pekerja berlangsung di sejumlah titik strategis. Di Solo, buruh melakukan aksi jalan jongkok dan di Bandung para pendemo menagih janji satu juta lapangan kerja yang pernah dilontarkan Gubernur Jawa Barat.

Sekitar 5000 buruh berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia dan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat sejak pagi. Mereka tergabung dalam serikat pekerja perusahaan masing-masing, dari Tangerang, Bekasi dan kota-kota sekitar Jakarta. Tampak spanduk-spanduk berisi tuntutan, dari “”Pilih Presiden yang Pro Buruh” hingga isu yang selalu muncul setiap tahun, yakni penghapusan outsourcing.

Setelah merapatkan barisan, massa buruh bergerak ke Istana Negara di Jalan Medan Merdeka Utara. Aksi ini menimbulkan kemacetan lalu lintas yang panjang. Sebagian besar buruh bergerak dengan berjalan kaki, sebagian lainnya menaiki sepeda motor. Busway tetap beroperasi seperti biasanya.

Usai waktu Salat Jumat dilaporkan, buruh melanjutkan aksinya dengan bergerak ke Gedung DPR. Polisi mengawal arak-arakkan dari Istana ke Senayan. Sepanjang perjalanan buruh meneriakkan yel-yel dan membentangkan spanduk, menuntut pemerintah memperjuangkan nasib buruh, menaikkan upah dan lebih memberikan perlindungan bagi mereka.

Jalan Jongkok

Dari Solo, Jawa Tengah dilaporkan, belasan peserta aksi memperingati Hari Buruh melakukan jalan jongkok untuk menunjukkan ketertindasan buruh, termasuk para pembantu rumah tangga. Mereka berjalan jongkok dari Benteng Vastenberg menuju Bundaran Gladag yang berjarak tak kurang dari 200 meter.

Di Bundaran Gladag, mereka melakukan aksi teatrikal dengan peserta aksi laki-laki berpakaian ala perempuan untuk menunjukkan peran sebagai pembantu rumah tangga, dan yang ada yang berperan sebagai majikan yang sewenang-wenang kepada para pembantu tersebut. Mereka tergabung dalam Federasi Serikat Buruh Setia Kawan.

Selain itu mereka juga menggelar orasi-orasi dan menyanyikan lagu-lagu. Dalam orasi yang dilakukan secara bergantian, buruh mengecam sistem kerja kontrak dan perlakukan tidak manusiawi majikan terhadap pekerja non formal yang digaji di bawah standar. Mereka juga membagikan selebaran yang berisi tuntutan agar 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Hari Buruh Sedunia atau biasa disebut May Day juga diperingati ribuan pekerja di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka melakukan aksi long march ke kantor Gubernur Sulsel.  Memakai pakaian serba merah, mereka menyerukan 11 tuntutan kepada pemerintah dan pengusaha, antara lain upah yang layak dan penghapusan sistem kerja kontrak.

“May Day adalah hari lebaran bagi kaum buruh sedunia, sudah waktunya kita bangkit dan melawan penindasan ini,” seru koordinator aksi Muchtar Guntur. Aksi ini juga diikuti anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar. “Jurnalis se-Makassar juga sudah satu suara menyebut diri mereka adalah buruh industri pers yang juga patut diperhatikan nasib dirinya oleh sang majikan,” ujar Ketua AJI Makassar Andi Fadli.

Sejuta Lapangan Kerja

Buruh yang tergabung dalam Koalisi Buruh Reformasi Indonesia (KBRI) menggelar aksi Hari Buruh atau May Day di depan Gedung Sate, Bandung. Mereka menuntut realisasi sejuta lapangan pekerjaan yang dijanjikan oleh Gubernur H Ahmad Heryawan dan Wakilnya H Dede Yusuf (HADE) saat kampanye Pilgub 2008 lalu.

Setelah hampir setahun pemerintahan HADE berjalan, para buruh mengklaim belum merasa ada perubahan yang signifikan di sektor perburuhan dan lapangan pekerjaan di provinsi itu. “Buruh meminta agar gubernur konsisten dan merealisasikan janji perbaikan nasib buruh serta pengadaan sejuta lapangan pekerjaan seperti janji mereka saat kampanye lalu,” kata Koordinator KBRI Burhanudin Simbolon.

Buruh mendesak Gubernur Jawa Barat bisa memegang janji dan kontrak politiknya dengan warga Jawa Barat dalam merealisasikan sejuta lapangan pekerjaan itu. “Kontrak politik merupakan utang yang harus dibayar, diharapkan realisasi sejuta lapangan pekerjaan itu tidak dikamuflase dengan program lain, karena warga Jabar saat ini sangat membutuhkan pekerjaan,” kata Burhanuddin.

Dalam aksi tersebut buruh juga menyampaikan “Surat Terbuka” untuk Gubernur Jabar yang intinya ratapan dan tuntutan buruh Jawa Barat yang menuntut kesejahteraan dan perbaikan regulasi yang pro kaum pekerja. Mereka kecewa karena gagal bertemu Gubernur H Ahmad Heryawan.

Para pekerja itu hanya diterima oleh Asda III Pemprov Jawa Barat H Pery Suratman yang mewakili Gubernur. Di depan massa buruh Pery mengatakan, Pemprov Jawa Barat konsisten untuk merealisasi sejuta lapangan pekerjaan bagi warga Jawa Barat. “Pemerintahan Pak Heryawan dan Pak Dede kan belum setahun, masih ada empat tahun lagi untuk merealisasi, dan saya yakin semua itu akan terealisasi,” kata dia.

Lebih jauh dikatakan, upaya membuka lapangan pekerjaan terus dilakukan antara lain dengan bekerja sama dengan industri melalui bursa tenaga kerja, pelatihan kaum muda dan korban PHK serta terus membuka kesempatan pekerjaan seluas-luasnya di sektor perkebunan milik BUMN maupun swasta.

Tags: ,