Hanya 3% Pelamar yang Penuhi Kualifikasi Skill dan Knowledge

Hanya 3% dari pelamar kerja yang memenuhi kualifikasi dalam segi skill dan knowledge. Itu pun setelah disaring dari (lulusan) perguruan tinggi negeri dan swasta yang dianggap ternama.

Demikian diungkapkan oleh pengamat SDM Nisa El Zanna yang juga seorang psikolog dan asesor yang banyak menangani rekrutmen untuk perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN. Nisa berbicara dalam seminar “Pendidikan Terintegrasi untuk Mendukung Pasar Kerja” di Sekolah Bina Nusantara, Jakarta, Selasa (29/5/07).

Selain Nisa, tampil sebagai narasumber Sekjen Depnakertrans Harry Heriawan Saleh, Staf Ahli Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Diknas Gogon, serta Presdir PT IBM Indonesia Betti Alisjahbana.

Dalam pengamatan Nisa, calon pekerja yang lebih siap dalam segi skill dan knowledge umumnya mereka yang berasal dari perguruan tinggi negeri/swasta yang telah membekali diri dengan pelatihan-pelatihan tambahan.

Kendati demikian, Nisa melihat bahwa secara umum para lulusan perguruan tinggi kurang memiliki kompetensi berpikir. “Mereka tidak hanya kurang memahami bidang kerja yang dilamar, tapi lebih dari itu juga kurang mengerti bidang apa yang sesuai dengan dirinya,” ujar dia.

Menurut Nisa, saat ini memang diperlukan kurikulum yang berfokus pada dunia kerja. Bagi siswa, kurikulum seperti itu akan membantu menyiapkan mereka menghadapi dunia kerja, sehingga tidak perlu biaya tambahan untuk ikut pelatihan keterampilan.

“Bagi perusahaan pun itu menguntungkan karena jadi mudah mencari tenaga kerja yang memenuhi kualifikasi. Sedangkan, bagi pemerintah, hal itu membantu mengurangi pengangguran dan memberi nilai kompetitif pada bangsa.” “Namun, sisi negatifnya juga ada, yakni pendidikan jadi kurang komprehensif,” tambah Nisa.

Seminar tersebut digelar oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Telematika. Dalam kesempatan itu, Harry Heriawan dari Depnakertrans memaparkan program-program pemerintah dalam usaha menjembatani dunia pendidikan dengan bisnis. Antara lain, dengan mobile training unite yang menjangkau daerah-daerah terpencil.

Gogon dari Diknas mengungkapkan langkah yang telah ditempuh departemennya untuk meningkatkan mutu lulusan sekolah/perguruan tinggi, yakni dengan peningkatan kualifikasi, sertifikasi dan mempertinggi kesejahteraan guru.

Sedangkan, Betti Alisjahbana berbagi pengalaman memimpin IBM, utamanya dalam aktivitas rekrutmen dan pengembangan karyawan. “Setahun sekali kami merekrut lulusan baru, dengan perbandingan dari 500 pelamar, satu orang yang diterima,” ujar dia.

Tags: