GWS 2012 Mencengangkan: 2/3 Karyawan Indonesia Disengaged!

gws 2012 towerswatson

 

HASIL survey mengenai kepuasan karyawan baru saja dirilis. Survey bertajuk Global Workforce Study (GWS) 2012 yang dilakukan oleh TowersWatson (TW) terbilang menarik karena memasukkan Indonesia ke dalam salah satu negara responden. Namun yang mengagetkan, hasilnya cukup miris. Di mana, perusahaan-perusahaan dihadapkan pada resiko besar dalam mempertahankan karyawan.

Di Indonesia sendiri, data survey-nya patut dicermati karena hampir dua pertiga karyawan di Indonesia tidak memiliki hubungan yang kuat pada perusahaan. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah sekitar 38% dari karyawan yang tidak memiliki keterikatan cenderung akan meninggalkan pekerjaan mereka dalam 2 tahun. Hal ini dibandingkan dengan hanya 21% karyawan yang memiliki keterikatan, yang ingin meninggalkan perusahaan mereka saat ini dalam periode yang sama. Data ini lebih lanjut menguatkan kedekatan hubungan keterikatan karyawan dan retensi, d imana karyawan yang memiliki keterikatan cenderung untuk bertahan.

Studi menunjukkan bahwa prosentasi keyakinan untuk memperoleh kesempatan memajukan karir dua kali lebih besar bagi kelompok karyawan yang memiliki keterikatan yang kuat terhadap perusahaan dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki keterikatan.

Sebanyak 33% dari karyawan di Indonesia yang tidak memiliki keterikatan dengan perusahaan yakin bahwa prospek pengembangan karir akan berubah menjadi lebih baik, dibandingkan 63% kelompok karyawan yang sangat memiliki keterikatan dengan perusahaan memiliki persepsi yang sama.

GWS 2012 yang mengikutkan 1005 karyawan di Indonesia dalam survei, menawarkan perusahaan kisi-kisi penting yang dapat dimasukkan dalam elemen-elemen lingkungan kerja untuk membantu membentuk perilaku dan kinerja karyawan dengan cara positif guna mendukung tujuan pertumbuhan bisnis. Ini dirancang untuk menjelaskan bagaimana pandangan karyawan mempengaruhi perilaku dan kinerja, serta keterikatan pada pekerjaan dan komitmen terhadap perusahaan.

Menurut Awaldi, Direktur Talent & Reward TW Indonesia, tingginya tingkat tidak ada motivasi dan keterikatan karyawan terhadap perusahaan menjadi kekhawatiran karena akan menimbulkan beban organisasi dan keuangan bagi manajemen. Ia menambahkan, perusahaan telah mengetahui dengan pasti bahwa keterikatan karyawan penting bagi kinerja bisnis, akan tetapi tampaknya hingga sekarang masih banyak perusahaan yang belum mampu mengatasi kendala tersebut.

“Kami melihat adanya kebutuhan mendesak bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mengenali kunci utama yang membentuk Keterikatan yang Berkelanjutan atau disebut Sustainable Engagement diantara para karyawan untuk dapat membentuk sebuah tim yang berkinerja tinggi dan adaftif terhadap perubahan organisasi serta terus memberikan kontribusi yang konstruktif bagi organisasi,” papar Awaldi yang membawakan presentasi dalam seminar di Jakarta (18/9/2012).

Awaldi juga menjelaskan, TW menggunakan kerangka kerja berbasis riset untuk menjelaskan konsep Keterikatan yang Berkelanjutan atau intensitas hubungan karyawan terhadap perusahaan, yang ditandai dengan komitmen untuk mencapai tujuan kerja dalam lingkungan yang aktif mendorong karyawan untuk memberikan kinerja terbaiknya. Ia menyebut, seorang karyawan dengan tingkat hubungan yang intens dapat dikatakan engaged (memiliki keterikatan terhadap perusahaan), enabled (memiliki lingkungan kerja yang mendukung kinerja) dan energized (aktif dan sehat secara fisik dan emosional). “Hasil penelitian kami menunjukkan ada keterkaitan antara Keterikatan yang Berkelanjutan dan fasilitas keuangan, dimana karyawan yang memiliki keterikatan cenderung untuk tidak meninggalkan perusahaan dan meningkatkan kinerja keuangan,” ujarnya.

Sementara itu Abhishek Mittal, Senior Consultant Organisation Surveys & Insights TW, menambahkan dari skor Keterikatan yang Berkelanjutan diantara 50 perusahaan global terkait dengan penelitian selama satu tahun yang dilakukan TW dan memeriksa keuntungan operasional mereka selama satu tahun, terdapat bukti yang dramatis dari dampak keterikatan yang berkelanjutan pada kinerja. “Perusahaan dengan tingkat keterikatan yang berkelanjutan memiliki keuntungan operasional hampir tiga kali lipat dibandingkan perusahaan yang memiliki tingkat keterikatan karyawan yang rendah. Kenyataan itu sendiri menciptakan sebuah kasus menarik untuk suatu perubahan,” tukas Abhishek. (*/@erkoes)

Tags: , , , , , , ,