Generasi Y Hanya Mitos?

Banyak sekali persepsi tentang gelombang baru karyawan yang biasa disebut sebagai Generasi Y. Mereka tidak loyal, terlalu “pede” dan sebagainya. Namun, sebenarnya secara mendasar hal-hal yang mereka inginkan sama saja dengan generasi-generasi pendahulu mereka.”Secara umum, mereka masih menginginkan sesuatu yang sama dengan Generasi X maupun baby-boomers, yakni gaji dan tunjangan yang besar, stabilitas pekerjaan dan kepuasan karir,” ujar Igor Abramovitch dari perusahaan konsultan Robert Half Internasional yang berpusat di Toronto, menyimpulkan hasil survei yang dilakukannya.

Igor mengakui, mereka memang memiliki karakter yang spesifik, namun tidak cukup mendasar. “Mereka kurang peduli dengan formalitas kantor dan lebih suka pergi ke tempat kerja dengan jins atau yang kasual. Tapi, tetap, mereka membutuhkan tim dan manajer yang bagus,” kata dia.

Diakui juga, bahwa generasi baru ini memerlukan pendekatan tertentu dari perusahaan untuk merekrut dan merentensi mereka. “Perusahaan yang ingin menawarkan diri menjadi tempat kerja mereka perlu memahami bahwa mereka menyukai jam kerja yang fleksibel dan memberi banyak kesempatan untuk kehidupan pribadi.”

“Pertumbuhan karir dan personal sangat penting bagi mereka,” tambah Igor seraya mengingatkan bahwa Generasi Y sangat melek pendidikan dan mementingkan kemajuan keterampilan, sehingga berusaha mencari tempat kerja yang memberi kesempatan sekolah lagi.

Survei lain dilakukan oleh JWT, jaringan agensi terbesar keempat di dunia, dan hasilnya memperjelas gambaran mengenai siapa sebenarnya generasi yang penuh mitos ini. Hail survei ini membantah bahwa “anak-anak milienium” ini tidak loyal pada perusahaan.
Mereka juga tidak “kasual-kasual amat”, dan setuju bahwa penampilkan formal di tempat kerja penting untuk menunjang sukses karir. Satu hal yang pasti, mereka ingin bermai saat bekerja dan lagi-lagi menjunjung tinggi keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

“Tidak seperti generasi orang tua mereka, anak-anak zaman sekarang ini kerja keras untuk waktu tertentu lalu berhenti bekerja untuk untuk membesarkan anak. Mereka tidak mau tua di depan meja kerja,” demikian analisis Ann Mack dari JWT yang berpusat di New York.

Disebutkan, teknologi merupakan pengaruh penting yang utama. “Mereka adalah para pekerja yang mengecek email sebelum tidur dan setelah bangun di pagi hari. Mereka sangat fleksibel dan oleh karenanya menginginkan bos yang fleksibel juga,” ujar Mack.
Mack berharap, temuan survei yang dilakukannya bisa memperbaiki berbagai persepsi yang salah mengenai Generasi Y. Ditegaskan, lebih penting bagi perusahaan untuk berusaha menjembatani “gap” antargenerasi karyawan, ketimbang sibuk dengan mitos-mitos.

Ditegaskan, pendekatan khusus dalam merekrut dan meretensi Generasi Y memang perlu, namun, “Jangan melupakan Generasi X yang merupakan jembatan antara Generasi Y dan baby boomers mereka berisiko menjadi generasi yang terlupakan,” pesan Mack.

Tags: