Generasi Tua Lebih Fokus di Tempat Kerja

Setiap generasi sudah barang tentu memiliki keinginan pada hal-hal yang berbeda di tempat kerja. Namun, menurut sebuah survei baru, para pekerja dari generasi yang lebih mudalah yang cenderung merasa lebih “lepas” dari pekerjaannya, dan bukannya generasi yang lebih tua.

Survei yang dilakukan perusahaan konsultan Hewitt untuk menjaring 50 pengusaha terbaik di Kanada menemukan variasi yang luas tentang perbedaan harapan antargenerasi di tempat kerja.

Rata-rata, dalam perusahaan-perusahaan yang tergolong terbaik, lebih dari tiga perempat pekerja mengaku terikat (enganged), dibandingkan dengan hanya lebih dari separo pada perusahaan lainnya.

Yang cukup mengherankan, karyawan yang lebih tua justru cenderung lebih merasa terikat di tempat kerja dibandingkan dengan mereka yang berusia lebih muda. Ini bertentangan dengan keyakinan bahwa pekerja yang sudah senior dengan sendirinya ingin cepat-cepat pensiun. Rata-rata tingkat keterikatan karyawan paling senior (berusia 61 atau lebih) pada partisipasi dalam organisasi adalah 74%.

Angka tersebut menurun sebanding dengan penurunan usia, dengan tingkat keterikatan terendah pada Generasi X (umur 26 sampai 40 tahun), yakni 61%. Karyawan pada rentang usia terendah 25 tahun atau lebih muda hanya sedikit lebih banyak terikat, tepatnya 63%.

Tidak Nyambung

“Program-program HR pada banyak organisasi telah dirancang oleh baby boomers sesuai dengan kebutuhan generasi mereka sendiri,” jelas Neil Crawford dari Hewitt. “Jadi tidak mengherankan bahwa banyak pekerja dari usia yang lebih muda tidak merasa nyambung dengan perusahaan mereka.”

“Dalam usaha untuk mendorong keterikatan yang tinggi, organisasi benar-benar harus mendengarkan kelompok-kelompok karyawan yang berbeda usia dan perbedaan faktor-faktor lain untuk menemukan apa yang akan membuat kerja mereka lebih bermakna,” tambah dia.

Tentu saja, survei menekankan, masalah keberagaman di tempat kerja tidak hanya menyangkut soal usia. Organisasi juga merekrut sumber daya manusia dengan keterampilan dan pengalaman yang berbeda-beda. “Pendekatan yang general atas kebijakan-kebijakan di tempat kerja sudah tidak cocok lagi,” ujar salah seorang konsultan Hewitt, Ted Emond.

“Program-program HR harus cukup fleksibel untuk memungkinkan karyawan menemukan prioritas-prioritas mereka sendiri,” tambah dia. Untuk menarik karyawan yang lebih muda, organisasi perlu menyediakan kesempatan-kesempatan pelatihan dan pengembangan, keseimbangan hidup dan kerja, serta kebebasan mengambil keputusan berkaitan dengan pekerjaan.

Pada sisi lain, untuk menarik karyawan dari generasi yang lebih tua, perusahaan perlu menyediakan pekerjaan yang menarik, supervisi yang mendukung, dan kesempatan-kesempatan untuk memanfaatkan keterampilan-keterampilan yang ada.

Tags: