Gen Y Lebih Pentingkan “Posisi” Ketimbang Gaji

Memimpin departemen HR di organisasi yang banyak mempekerjakan karyawan dari Generasi Y memang gampang-gampang susah. Banyak fakta dan mitos yang menyertai mereka sehingga diperlukan pemahaman yang benar mengenai generasi “mobile” tersebut. Salah satunya, Gen Y lebih mementingkan posisi daripada benefit.

“Mereka nggak nyari uangnya, tapi posisi,” ujar Direktur HR Accor Indonesia Ade Noerwenda dalam perbincangan dengan PortalHR.com di Jakarta. Perusahaan yang memayungi manajemen 37 hotel di Tanah Air tersebut memiliki banyak karyawan dari Gen Y.

“Terutama di Novotel, Mercure dan Ibis itu hampir separo karyawannya berusia 25 hingga 35 tahun, itu Gen Y,” ujar Ade. Karakter lain yang dipahami Ade dari generasi tersebut adalah ambisi yang tinggi akan mobilitas karir. “Mereka itu advonturir. Dari sale pengen pindah ke front office, terus jadi trainer, habis itu minta kembali ke operation. Tapi, mereka memang bisa dan perform,” papar dia.

Bagi Ade, karakteristik semacam itu merupakan keuntungan yang luar biasa bagi perusahaan. Untuk itu, Ade memastikan bahwa untuk mereka, career development-nya harus ditanggani dengan baik dan diformalisasikan.

“Program pengembangan untuk mereka harus cepat, dan jangan cuma janji-janji.” ujar dia seraya menambahkan bahwa cukup mengejutkan karyawan dari generasi baru ini justru senang jika ditempatkan di luar Jawa.

Diingatkan, Gen Y sangat kritis dan tidak sungkan untuk bertanya. “Untuk level staf saja mereka itu nggak takut ngomong apa saja, mereka open, beda dengan generasi yang lebih tua yang sungkan-sungkan.”

Sesuai dengan jenis industrinya yang memang menghendaki banyak aturan berkaitan dengan penampilan, Ade merasa salut bahwa anak-anak muda yang dinamis itu bisa memahami ketatnya berbagai larangan selama berada di lingkungan kerja.

Di hotel kan rambut nggak boleh panjang dan nggak boleh dicat, sampai kuku dan kumis aja, ya ampun, semua diatur. Memang gampang-gampang susah, tapi mereka mengerti. Dan, kira sendiri dari HR juga harus memberi contoh,” ungkap Ade.

Menghadapi Gen Y, dalam hemat Ade, HR harus banyak tersenyum dan mau menyapa terlebih dahulu. Selain itu, sebagai pimpinan HR, Ade mewajibkan dirinya untuk sering berjalan-jalan, keliling ke tengah-tengah karyawan.

Itulah sebabnya, menurut Ade, orang HR jika tidak memiliki passion “nggak akan jadi”. “Selain itu kita juga harus mempunyai keterampilan komunikasi dan negosiasi yang bagus, kalau tidak, pesan dari pucuk pimpinan, atau dari budaya perusahaan, nggak akan sampai ke bawah,” tandas Ade.

Tags: