Galakkan Inovasi, PLN Terapkan dalam 20% KPI Karyawan

PLN_EddyErningpraja_s

Dalam era persaingan yang ketat seperti sekarang ini, inovasi menjadi sesuatu yang mutlak bagi setiap organisasi. Demikian juga halnya dengan PLN. Hal ini mengemuka dalam paparan materi yang dibawakan oleh Eddy D. Erningpraja, Director of HR and GA PT PLN (Persero) dalam acara The 5th Human Capital National Conference 2012, di kampus PPM, Jakarta, Kamis pekan silam (22/11/2012).

Eddy pun memaparkan kondisi perlistrikan nasional, yang menurutnya tiap tahun akan terus bertambah. “Menariknya setiap 10% pertumbuhan lisrik, maka diperlukan 20% ketersediaan BBM, dan ini merupakan kebutuhan yang sangat besar. Pertumbuhan ini tidak hanya terjadi di Pulau Jawa saja, tetapi juga di luar Jawa. Malah dengan gebrakan yang dilakukan oleh Pak Dahlan Iskan kemarin, tercatat pertumbuhan di luar Pulau Jawa meningkat 17%. Ini yang terjadi dan diperlukan kurang lebih Rp 70 triliun setiap tahunnya untuk mengejar pertumbuhan tadi. Untuk itulah semua insan PLN dituntut untuk terus berinovasi dalam menjalankan organisasinya,” katanya.

Eddy juga menegaskan, kalau tidak dengan semangat berinovasi, PLN tidak akan bergerak sejauh seperti sekarang ini. “Dari yang dulunya kantornya sangat konvensional, harus menunggu, harus antri, pelan-pelan setiap urusan dengan PLN cukup melalui telepon, dari handphone atau multigadget lainnya, dan paling banter ke kantor-kantor bank. Justru kita akan menerapkan strategi de-kantorisasi, yang akan diperbanyak adalah mobil-mobil layanan yang siap menjemput konsumen,” tuturnya.

Di satu sisi, Eddy mengakui bahwa hal tersulit di PLN ada berubah. “Karena apa, karena tidak ada kekuatan dari luar yang menyebabkan insan PLN harus berubah. Dari regulasi maupun undang-undang meskipun ada celah untuk itu namun secara natural bisnis di PLN itu tidak ada yang murah. Investasinya bisa triliunan rupiah, sementara balik modalnya bisa puluhan tahun. Ini yang menyebabkan tidak banyak pemain yang mau masuk. Inilah yang menjelaskan kenapa PLN itu susah berbenah diri, sehingga manajemenlah yang harus proaktif membuat sebuah kondisi di mana para pegawai PLN merasa ada shadow competitor,” imbuhnya.

Salah satunya, lanjut Eddy, dengan melakukan benchmark proses pengelolaan ketenagalistrikan terhadap utility-utility di negara-negara tetangga. “Dan yang sering kita tekankan adalah nilai tambah, di mana itu bisa diartikan sebagai nilai lebih yang tidak dipunyai oleh kompetitor sehingga hal itu menjadi kekuatan dari PLN. Ini semua tidak akan dicapai tanpa ada kegiatan-kegiatan yang bertujuan melahirkan inovasi-inovasi,” ujarnya.

Inovasi di PLN, terang Eddy, sudah cukup lama mulai dikembangkan bahkan sudah mulai dirintis 13 tahun yang lalu. “Hanya saja ini tidak dirasakan oleh masyarakat luas. Kenapa? Karena sudut pandang inovasi kita itu adalah untuk internal saja. Misalnya bagaimana mengatasi gangguan dengan cepat, dan ini hanya untuk diketahui antar kita saja, orang luar tidak ada yang tahu. Entah itu di kota ataupun di pucuk gunung sekalipun, mau siang maupun jam 2 pagi dini hari, orang PLN tidak boleh menunda pekerjaan. Begitu ada masalah, langsung koordinasi dan langsung dikerjakan. Tapi hal ini khan nyaris tidak terdengar,” katanya.

Sehingga, masih menurut Eddy, PLN belakangan ini mulai menata diri. “Kita melihat sudut pandang dari sisi ekternal. Kita kenali apa yang menjadi kebutuhan pelanggan. Misalnya masyarakat inginnya tidak pakai antri, kalau minta tambah listrik gampang dan hal-hal lainnya. Dan inilah yang kami kerjakan saat ini. Inovasi-inovasi yang ada di masyarakat, terbukti membuat wajah PLN juga berubah di mata masyarakat. Memang tidak bisa sulap, tapi berdasarkan rating internasional yang mengukur kemudahan akses, kita naik cukup tajam yakni 11 poin dibanding tahun-tahun sebelumnya,” tegas Eddy.

Semangat inovasi inilah yang kata Eddy tengah digalakkan di antara para pegawai PLN. “Karyawan yang berinovasi dengan yang tidak jelas berbeda. Sekarang tidak ada keraguan lagi kalau mau inovasi, nanti arah karirnya mau ke mana. Sekarang sudah clear, bahkan inovasi ini menyumbang 20% indikator pencapaian key performance index per individu tiap karyawan,” tukas Eddy lagi. (*/@erkoes)