Gaji Top Executive di Indonesia Akan Terus Naik

Dalam kurun sepuluh tahun terakhir, gaji untuk kalangan top executive perusahaan di Indonesia menunjukkan peningkatan dan tren ini akan terus naik hingga tahun-tahun mendatang. Makin banyaknya perusahaan asing yang masuk ke Indonesia menjadi salah satu faktor yang mendorong gaji top level makin kompetitif.

“Banyaknya perusahaan asing yang masuk mau tidak mau menuntut perusahaan lokal memberi penghargaan lebih pada top executive-nya, bagaimana me-manage kompensasi agar mereka tetap bertahan,” demikian Managing Director HayGroup Sylvano Damanik ketika menjadi pembicara pembuka dalam seminar setengah hari Executive Pay Trend 2007 di Hotel Intercontinental Mid Plaza, Jakarta, Kamis (14/14/9/06). Seminar ini merupakan persembahan HayGroups bekerja sama dengan Swanetwork.

Menurut Damanik, “Pay level atas kita cukup kompetitif.” Sehingga, makin sedikit perusahaan yang membayar lebih tinggi kepada eksekutif asing. “Mereka dibayar dengan paket lokal karena compensation dan benefit yang ditawarkan perusahaan di sini sama baiknya atau bahkan lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain khususnya di Asia Pasifik,” kata Damanik.

HayGroup adalah perusahaan konsultan SDM yang berpusat di Philadelphia, AS dan telah beroperasi di 47 negara termasuk Indonesia. Sejak 1996, lembaga ini mempublikasikan hasil penelitian yang menyoroti gaji kaum eksekutif perusahaan. “Di mana-mana, gaji komisaris dan direksi itu selalu menjadi sorotan. Berapa mereka digaji mencerminkan performance perusahaan tempat mereka bekerja,” kata dia.

Namun, seminar yang mengusung tema “How Much is too Much?” itu belum menjawab secara tuntas dan konkret, berapa idealnya seorang eksekutif harus digaji, dan berapa batasnya. “Tidak ada batasnya, karena di atas yang terukur dengan rupiah, masih banyak reward yang bisa diberikan perusahaan kepada karyawannya,” kata Human Resource Director PT Unilever Josef Bataona yang tampil dalam sesi testemoni, bersama Compensation&Benefit Manajer PT Sampoerna Henryk Maron.

Yang jelas, menurut Damanik, terus meningkatnya gaji kalangan eksekutif akan berdampak pada makin lebarnya gap antara karyawan level atas dan bawah. “Sepuluh tahun lalu, perbandingannya 10 sampai 15 kali, sekarang 30 sampai 35 kali,” Damanik memberi gambaran. Apakah gejala tersebut mengkhawatirkan? “Saya kira tidak, asal tingginya gaji mereka (kalangan eksekutif) itu diimbangi dengan kinerja yang bagus, dan ada return buat perusahaan. Tapi, bagaimana pun memang harus tetap dicermati.”

Jadi, how much is too much?

 

Tags: ,