Gaji, Masih Penting dalam Menarik dan Mempertahankan Karyawan

gws 2012 towerswatson 3

 

PERSOALAN gaji, ternyata masih menjadi isu penting dalam hal menarik atau mempertahankan karyawan. Hal ini terungkat dalam Towers Watson (TW) Global Workforce Study (GWS) 2012 yang melibatkan lebih dari 32,000 karyawan yang dipilih dari panel riset yang mewakili populasi karyawan penuh yang bekerja di perusahaan besar dan menengah di berbagai industri di 29 pasar di seluruh dunia. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara responden, di mana ini juga menjadi catatan tersendiri karena Indonesia dilibatkan dalam sebuah survey global.

Penelitian ini dilakukan secara online selama bulan Februari dan Maret 2012. Studi ini dirancang untuk membantu perusahaan untuk lebih memahami keberagaman segmen karyawan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan terhadap pekerjaan dengan mengukur perubahan sikap yang mempengaruhi daya tarik, retensi, keterikatan dan produktivitas.

Dalam hal menarik karyawan, gaji telah berkembang menjadi faktor utama. Namun, bila dibanding negara dengan pertumbuhan ekonomi cepat lainnya, Indonesia memiliki tingkat kepuasan yang lebih rendah dalam urusan gaji, yakni hanya 39%, jauh lebih rendah dibanding negara lain yakni 51%. Kesenjangan yang signifikan ini menunjukan bahwa perusahaan di Indonesia belum cukup mengambil langkah untuk mengatasi kekhawatiran karyawan terkait gaji.

GWS 2012 juga menunjukkan bahwa lokasi tempat kerja menempati salah satu dari 5 faktor utama dalam menarik dan mempertahankan karyawan.Gaji masih menjadi faktor utama bagi karyawan, dan kebanyakan mereka melihat hubungan dengan manajer menjadi faktor penting kedua.

Dari analisis data lebih lanjut terungkap bahwa bagi kelompok karyawan berusia di bawah 30 tahun dan 30-39 tahun, gaji dan lokasi tempat kerja menempati peringkat 2 teratas, akan tetapi untuk kelompok usia 40-49 tahun dan di atas 50 tahun, faktor gaji menempati peringkat 3. Mengenai lokasi tempat kerja, hal ini dilihat sebagai faktor utama bagi kelompok usia 40-49 tahun, hal ini bukan menjadi faktor utama bagi mereka yang berusia diatas 50 tahun, di mana keamanan justru menjadi prioritas.

Rincian serupa pemicu karyawan akan bertahan menunjukkan bahwa untuk kelompok umur di bawah 30 tahun, 30-39 tahun dan 40-49 tahun, gaji merupakan faktor utama, sementara bagi kelompok usia diatas 50 tahun, hubungan dengan manajer menempati peringkat atas dan gaji di peringkat  keempat. Menariknya, lokasi tempat kerja tidak termasuk dalam lima faktor utama bagi semua kelompok umur kecuali  kelompok usia 50 tahun yang tetap memasukkannya di peringkat dua.

Pentingnya Mengkomunikasikan Proporsi Nilai Karyawan

Menurut Awaldi, Direktur Talent & Reward TW Indonesia faktor-faktor seperti gaji dan lokasi tempat kerja yang awalnya penting, tapi hubungan interpersonal di tempat kerja, serta peluang pengembangan karir menjadi lebih penting dari waktu ke waktu dan menjadi bagian yang mempengaruhi karyawan untuk memutuskan bertahan atau meninggalkan perusahaan.

Awaldi menambahkan, dengan hanya sepertiga dari karyawan yang berniat tetap di perusahaan lebih lama dari 2 tahun, menandakan perlunya manajemen mengenali bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi Keterikatan yang Berkelanjutan (Sustainable Engagement).

 

Untuk memenangkan best talent, lanjut Awaldi, perusahaan harus dapat mendefinisikan dan mengkomunikasikan dengan jelas apa yang mereka tawarkan dan menepati tawaran tersebut  untuk menutupi adanya kesenjangan antara ekspektasi perusahaan dengan karyawan. GWS 2012 juga menemukan bahwa tidak semua kelompok usia karyawan melihat ketertarikan, retensi dan keterikatan mendorong secara bersamaan, dan perusahaan harus mengkomunikasikan program penghargaan total untuk memenuhi kebutuhan setiap kelompok. Faktanya, hasil survei menunjukan bahwa hanya 45% karyawan di Indonesia puas dengan NIlai dari Penghargaan Total, dimana lebih rendah dari karyawan di negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat, yakni 51%.

Awaldi menyimpulkan, untuk meningkatkan Keterikatan yang Berkelanjutan, perusahaan harus fokus pada 2 aspek. “Pertama pemberdayaan, yakni menyediakan dukungan kebutuhan karyawan dalam melakukan pekerjaan mereka secara efisien dan efektif dan juga atmosfir lingkungan kerja yang sehat yang mendukung fisik, sosial dan emosional. Kedua, pemimpin senior dan manajer memainkan peran penting untuk memastikan efektivitas orang-orang di manajemen, departemen HRD juga harus ikut berperan dalam meningkatkan upaya-upaya komunikasi dengan memanfaatkan teknologi untuk penyampaian program HRD secara efektif,” ujarnya. (*/@erkoes)

 

Baca juga:

Global Workforce Study 2012 Mencengangkan: 2/3 Karyawan Indonesia Disengaged!

Mengelola Stress, Keseimbangan dan Beban Kerja Kunci Sustainable Engagement

Tags: , , ,