From One Dollar To Billion Dollars Company, Transformasi Garuda yang Berkesinambungan

Peluncuran Buku Transformasi Garuda

Peluncuran Buku Transformasi Garuda

MELIHAT KINCLONGNYA PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk saat ini, tentu sulit bagi siapa saja membayangkan Garuda pernah ditaksir nilai perusahaannya hanya sebesar $1 saja! Ya angka ini tidak salah tulis, satu dollar. Garuda yang awalnya bernama Indonesia Airways sebenarnya punya modal besar. Waktu itu Garuda diproteksi oleh hak monopoli oleh Pemerintah. Sayangnya, juga di beberapa kasus lainnya, usaha yang dimonopoli ini justru memberikan efek negatif. Garuda menjadi tambun, besar tapi tidak efisien. Garuda berada di area comfort-zone.

Hingga pada 1999 Pemerintah melakukan regulasi industri penerbangan nasional dengan memperbolehkan swasta masuk, Garuda tidak siap bersaing. Pada 1998, utang Garuda malah menyentuh US$ 1,81 miliar dan itu sudah jatuh tempo. Kas sebagai uang simpanan yang ada di bank pun hanya US$ 20 juta, yang mana jumlah ini hanyalah sepertiga dari biaya operasional yang harus dikeluarkan tiap bulannya sebesar US$ 60 juta. Garuda diambang kebangkrutan.

Beruntung Indonesia masih memiliki putra pribumi yang masih mau berjuang menjunjung nama baik Indonesia. Di sinilah muncul nama-nama para profesional seperti Robby Johan, Abdul Gani dan Emirsyah Satar terpanggil untuk menyelamatkan Garuda atas penunjukan Menteri BUMN kala itu Tanri Abeng. Robby Johan didapuk sebagai CEO, dan Emir memegang kendali sebagai Direktur Keuangan. Ketika Robby mendapat tugas negara lainnya, Emir ditunjuk Soegiharto, penerus Menteri BUMN menjadi bos baru di Garuda, dan Abdul Gani ditunjuk sebagai Komisaris Utama. Sebetulnya Emir waktu itu sudah keluar dari Garuda dan menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Bank Danamon. Untuk kedua kalinya Emir masuk kembali ke Garuda. Ini tentu sebuah perjuangan yang ukurannya tidak lagi sebuah materi. Sebagai bankir, Emir tak kurang mengantongi Rp 500 jutaan tiap bulannya, dan ketika masuk menjadi CEO Garuda, ia justru hanya menerima gaji Rp 80 juta saja per bulannya.

Garuda sendiri tidak pada kondisi ideal ketika Emir masuk. Beragam persoalan menumpuk, baik dari sisi internal mulai dari gejolak di organisasi, lemahnya keuangan, armada pesawat yang sudah uzur hingga secara eksternal citra Garuda di mata publik internasional jeblok. Ibarat kata, Garuda mengalami turbulensi di dalam pesawatnya sendiri.

Drama di atas seolah tersaji kembali saat peluncuran buku “From One Dollar To Billion Dollars Company” karya Prof. Rhenald Kasali, Ph.D dan Emirsyah Satar dihelat di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, (4/9/2014).

Perjalanan Garuda memang penuh lika-liku dan banyak kejadian dramatis yang menyertainya. Pengalaman Emir memimpin Garuda sejak ia diangkat sebagai Direktur Utama pada 2005 hingga saat ini, paling tidak telah memberi nuansa yang lebih berwarna. Buku “From One Dollar To Billion Dollars Company”menceritakan transformasi Garuda Indonesia secara bertahap sejak 2005 mulai dari tahapan survival, turn around, growth hingga menjadi maskapai penerbangan global player. Tentu saja buku ini tidak menyajikan akhir cerita yang manis, karena perjalanan Garuda sendiri masih terus panjang.

Namun dengan berbagai terobosan dan prestasi yang sudah diraih oleh Garuda selama ini, harapan Garuda bisa menjadi ikon nasional yang bisa berbicara banyak di industri penerbangan internasional terbuka lebar. Pada saat IPO (initial publicc offering) Garuda pada 11 Februari 2011, terlepas banyak yang menilai kurang sukses, Garuda berhasil mendapatkan dana sebesar Rp 3,3 triliun dan ini sudah melebihi target awal. Perjalanan Garuda memang belum akan berakhir, dan Garuda dituntut untuk terus terbang membubung tinggi di angkasa. Pencapaian Garuda harus tetap diapresiasi. Bukankah Garuda pada suatu masa pernah ditaksir nilainya hanya US$ 1? (*/@erkoes)

Tags: ,