Fleksibilitas Kaum Ibu yang Bekerja Tidak Kurangi Produktivitas

Bertepatan dengan Mother’s Day yang dirayakan di Amerika pada 13 Mei 2007, perhatian dunia bisnis tertuju pada kaum ibu yang bekerja di luar rumah. Mayoritas pekerja ternyata mengaku kagum dengan kemampuan para ibu untuk menyeimbangkan kerja dengan kehidupan keluarga.

Sebesar 88% kalangan pekerja Amerika memberikan apresiasi yang tinggi kepada kaum ibu yang bekerja, demikian menurut survei online yang dilakukan Adecco, sebuah perusahaan staffing global terhadap 1.909 karyawan tetap dan paruh waktu.

“Ibu pada zaman ini tidak hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, mereka juga mencalonkan diri sebagai presiden,” ujar chief career officer Adecco Bernadette Kenny dalam sebuah pertanyaan pers yang dikutip Society for HR Management Online. “Bertahun lalu, tidak tersedia banyak pilihan untuk mengimbangi dedikasi keibuan dan perempuan karir yang sukses,” tambah dia.

Bagi para ibu yang lebih beruntung dengan pekerjaan di luar rumah tersebut, tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan pengusaha yang memberikan jadwal kerja yang fleksibel kepada karyawan mereka. Sebesar 44% ibu yang bekerja mengatakan, jam kerja yang fleksibel membantu mereka lebih produktif.

Menurut survei, jam kerja fleksibel bagi ibu-pekerja mengatur sendiri jadwal mereka, meninggalkan kantor lebih awal dan datang agak siang tidak berpengaruh pada keseluruhan produktivitas. Hal tersebut ditegaskan oleh 45% pekerja.

Namun, agak menyedihkan bahwa 67% tidak percaya bahwa kaum ibu yang bekerja telah memiliki fleksibilitas jam kerja seperti yang diharapkan, dibandingkan dengan karyawan lain.

“Dewasa ini, tempat kerja lebih peka pada kebutuhan kaum ibu, tapi memang harus lebih ditingkatkan lagi,” ujar Kenny seraya menjelaskan apa yang harus lebih ditingkatkan lagi. Yakni, menyediakan fleksibiltas jadwal kerja yang tak terbatas bagi para ibu.

Namun, perlu diperhatikan pula fakta: hampir 60% pekerja pria berusia 35-44 tahun mengungkapkan, kaum ibu-pekerja dengan jam kerja yang fleksibel menimbulkan perasaan iri di antara para karyawan. Dan, lebih dari sepertiga (36%) karyawan berpikir, fleksibiltas jadwal yang dimiliki kaum ibu yang bekerja mengganggu dinamika tim. Bahkan 31% yakin, hal itu juga “melukai” keseluruhan semangat karyawan.

Menurut Kenny, pihak perusahaan harus mengelola dengan baik persepsi-persepsi dan sikap-sikap karyawan terhadap “hak istimewa” yang dituntut oleh kaum ibu yang bekerja tersebut. Ditegaskan, jam kerja yang fleksibel tidak berarti bekerja dengan jam-jam yang berbeda setiap hari.

Di samping itu, lanjut Kenny, pimpinan perusahaan tetap memegang penuh keputusan mengenai kapan dan kepada siapa jadwal kerja yang fleksibel itu diberikan. “Disesuaikan dengan kepentingan bisnis,” kata dia.

Kenny yakin, jika dikomunikasikan, diatur, didokumentasikan dan dikelola dengan baik, jam kerja yang fleksibel (untuk para ibu) tidak akan mengganggu produktivitas, dan justru sebaliknya bisa meningkatkannya.

Tags: ,