Faisal Basri: Ancaman PHK Massal Harus Dilihat Lebih Mendasar

Kemungkinan akan adanya gelombang PHK pada 2009 harus dilihat lebih mendasar, dan bukan semata-mata dilihat dampaknya terhadap angka penggangguran. Sebab, data-data yang ada menunjukkan bahwa angka pengangguran di Indonesia sebenarnya semu belaka. Demikian menurut pengamat ekonomi Faisal Basri dalam ulasannya di Kompas, Senin (15/12/08).

Secara tersirat Faisal mengatakan, munculnya kekhawatiran akan adanya PHK besar-besaran tahun depan merupakan sesuatu yang “berlebihan”. “Kecuali kalau data resmi sudah tak lagi mengambarkan keadaan nyata yang dialami rakyat,” ujar Faisal.
Seperti telah disampaikan kepada publik, pemerintah menyadari bahwa target pertumbuhan ekonomi yang tercantum di APBN 2009 sebesar 6 persen akan sulit terpenuhi. Ancar-ancar target pertumbuhan baru adalah 5 sampai 5,5 persen. Bahkan, pemerintah sudah wanti-wanti tentang kemungkinan terburuk, yakni pertumbuhan hanya mencapai 4 persen.

Sementara, Bank Dunia dalam publikasinya pekan lalu memprediksi pertumbuhan 4,4 persen. Menurut Faisal, bertolak dari data masa lalu, angka pengangguran terbuka tak akan merangkak naik sepanjang pertumbuhan ekonomi masih di atas 5 persen. Contohnya, pertumbuhan ekonomi 2006 yang hanya 5,5 persen berhasil menurunkan angka pengangguran terbuka dari 11,2 persen (2005) menjadi 10,3 persen (2006).

Sedangkan, pertumbuhan ekonomi 2007 sebesar 6,3 persen menurunkan pengangguran terbuka menjadi 9,1 persen. “Pola demikianlah yang kiranya meyakinkan Wakil Presiden bahwa setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen menghasilkan lapangan kerja baru bagi sekitar 700.000 orang. Kalau memang benar demikian, pertumbuhan produk domestik bruto 4 persen sekalipun niscaya tak akan membuat angka pengangguran terbuka menggelembung,” papar Faisal.

Lantas, mengapa muncul kekhawatiran ”berlebihan”, termasuk dari pemerintah sendiri, terhadap kemungkinan terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja massal pada 2009? Apakah pemerintah sudah membayangkan kemungkinan terburuk bahwa pertumbuhan ekonomi akan melorot di bawah 4 persen? Atau, data resmi sudah tak lagi menggambarkan keadaan nyata yang dialami rakyat?

Terlalu Miskin untuk Menganggur

Definisi pengangguran terbuka yang dipakai Badan Pusat Statistik sangat longgar. Orang yang bekerja satu jam dalam seminggu tak lagi tergolong penganggur terbuka. Angka pengangguran juga tak akan naik proporsional dengan besarnya PHK. “Bagi kebanyakan rakyat Indonesia, menjadi penganggur adalah kemewahan yang tak tergapai. Mereka terlalu miskin untuk tidak bekerja,” ujar Faisal.

Ada beberapa faktor yang mengindikasikan kecenderungan itu, yakni jumlah orang yang bekerja kurang dari 35 jam meningkat. Pada waktu bersamaan, pekerja di sektor informal meningkat hingga 69 persen pada 2007. Kehidupan pekerja di sektor informal sangat rentan. Mereka tak mengenal jam kerja, uang lembur, asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja, apalagi tunjangan hari tua.

Dalam analisis Faisal, kemungkinan PHK massal mencerminkan kerapuhan sektor formal. Sejauh ini, PHK masih di sektor industri manufaktur. Jika tak ditangani segera, hal itu bisa merembet ke sektor formal lainnya. Namun, memberikan keleluasaan kepada mereka untuk “pindah” ke sektor informal juga bukan penyelesaian karena bisa menambah tekanan sosial, mengingat daya dukung sektor informal sangat terbatas.

“Di tengah persoalan yang membelit dunia usaha dan prospek investasi yang suram akibat krisis finansial global, mau tak mau pemerintah harus lebih banyak berperan,” simpul dia.
“Pemerintah harus menempuh serangkaian upaya yang luar biasa. Menghimpun segala potensi kekuatan untuk menyuntikkan energi baru dengan dosis tinggi. Berlebihan sedikit lebih baik ketimbang kurang,” saran Faisal.

Tags: