Engagement Orang HR Tinggi, Eksekutif Rendah

Para profesional HR adalah karyawan yang paling <I>engaged</i> terhadap perusahaan tempat mereka bekerja. Sebaliknya, jajaran eksekutif puncak ternyata justru memiliki hubungan emosional yang rendah terhadap organisasi.
Demikian hasil survei yang dilakukan atas 7.508 responden dari berbagai jabatan, fungsi dan industri di Amerika oleh lembaga penelitian Skillman untuk firma konsultasi Blessing White. Selain orang HR, karyawan bagian <I>sales</I> juga tercatat paling <I>engaged</I>. Masing-masing 36 %.
Survei menunjukkan, perusahaan konsultan dan <I>training</I> HR merupakan industri dengan tingkat <I>engagement</I> karyawan tertinggi, yakni 46%. Laporan hasil survei yang diberi judul State of Employee Engagement 2008 itu juga mengungkapkan, karyawan di daratan Amerika Utara paling <I>engaged</I> nomer dua di dunia setelah India.
Namun, pada level eksekutif senior, temuannya menjadi perbeda. Lebih dari 50 persen eksekutif senior yang diteliti mengaku "kurang merasa memiliki ikatan emosional dan kecocokan" dengan organisasi mereka.
Lebih jauh laporan penelitian tersebut menyoroti, mengapa lebih dari separo eksekutif senior merasa <I>disengaged</I>? Apa yang bisa dilakukan HR untuk meningkatkan <I>engagement</I> di jajaran manajemen level atas?
Menurut principal bidang pelatihan komunikasi pada Hewitt Associates Ray Baumruk, sebagaimana berlaku untuk karyawan pada level yang lain, <I>engagement</I> jajaran eksekutif ditentukan oleh faktor-faktor kesempatan dalam organisasi, tipe pekerjaan, kualitas hidup, <I>total rewards</I> dan orang-orang yang bekerja dengan mereka.
"Bagi karyawan level-atas, faktor-faktor seperti status, kemampuan untuk mempengaruhi keputusan dan hasil, kecocokan antara nilai-nilai personal dengan nilai-nilai perusahaan merupakan faktor tambahan untuk meningkatkan <I>engagement</I>," tambah dia.
Baumruk melihat, tantangan-tantangan unik yang dihadapi para eksekutif di lingkungan perusahaan saat ini juga menjadi faktor yang ikut memperngaruhi keseluruhan perasaan <I>disengagement</I>. Oleh karenanya disarankan agar departemen HR memperhatikan sungguh-sungguh isu engagement pada level eksekutif senior.
Salah satu yang perlu dilakukan HR, menurut VP Blessing White Stephen Parker, mengadvokasi pengembangan kepemimpinan.
"Para eksekutif begitu tersita waktunya untuk bisnis sehingga mereka tidak sempat memikirkan apa yang penting bagi diri mereka secara personal, atau sekedar mengingat apa yang <I>inspiring</i> dari peran mereka dalam organisasi."
"Orang HR perlu mengingatkan mereka," lanjut Parker.