Empat Elemen untuk Ciptakan Lapangan Kerja

Dalam rangka mengatasi masalah kemiskinan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono bersama seluruh menteri Kabinet Indonesia Bersatu II pada tanggal 15 September yang lalu menghadiri acara presidential lecture (kuliah kepresidenan) mengenai peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan orang miskin, yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta. Materi kuliah disampaikan oleh Dekan Harvard Kennedy School, Prof David T. Ellwood.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 berkisar 14,15 persen atau sebanyak 32,53 juta jiwa dari total penduduk.

Dalam kuliahnya, Ellwood menyampaikan empat elemen terpenting untuk menciptakan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Pertama, ekonomi yang sehat dan kuat. Kedua, menemukan cara kerja sama jangka panjang kompetitif yang unggul di dunia. Ketiga, kelembagaan dan pemerintahan yang kuat dan efektif. Dan keempat, program bagi kaum miskin yang dirancang dengan cermat. Menurut Elwood, keempat poin tersebut mudah diucapkan, tapi sangat sulit dijalankan.

Merinci keempat elemen tersebut, Ellwood – yang dikenal sebagai guru besar ekonomi-politik – menegaskan, tanpa pertumbuhan ekonomi yang kuat, mustahil untuk menghapuskan kemiskinan. “Jika ada pilihan ekonomi yang kuat atau kebijakan baru untuk rakyat miskin, jawaban saya selalu sama yaitu ekonomi yang kuat karena sangat penting untuk semua. Hal ini juga dapat menciptakan peluang kerja bagi rakyat miskin,” tuturnya dalam pemberian materi kuliah kepresidenan yang dipandu oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Irawan Wirjawan. Selain kuat, ditambahkannya, pertumbuhan ekonomi harus equitable (merata).

Pada poin kedua, salah satu tantangan yang dihadapi adalah menemukan produk yang komparatif dan unggul di dunia ekonomi. “Maksud saya adalah sebuah produk yang bernilai lebih, sehingga negara lain ingin membelinya. Produk Anda harus lebih baik, lebih murah, dan lebih efisien,” ujar Ellwood menyebutkan. Selain itu, ia menambahkan, perlunya keunggulan kompetitif yang terwujud dalam teknologi, keterampilan, dan pendidikan dalam upaya memerangi kemiskinan. Pendidikan, misalnya, merupakan hal yang vital untuk pembentukan keterampilan dan penyesuaian yang fleksibel.

Ketiga, yang maksud Ellwood dengan pemerintahan yang kuat dan efektif adalah, bukan pemerintahan yang mengatur segala-galanya. Ia menjelaskan, pemerintah mesti pandai dalam menentukan industri apa yang dapat berkembang di negaranya, di samping juga harus merangsang kegiatan ekonomi. Ciri-ciri yang bisa disimak dari pemerintahan model itu, antara lain, mempunyai daya untuk menstimulasi bisnis dan kompetisi, giat membangun infrastruktur, dan mampu meminimalkan korupsi melalui aksi yang transparan, efisien, dan kredibel. “Pemerintahan seperti itu juga stabil, predictable (teramalkan), dan tersambung dengan rakyat,” ia menambahkan.

Sementara itu, di poin terakhir, Ellwood memaparkan, membuat program bagi masyarakat miskin harus dirancang dengan cermat dan seksama (thoughtfully constructed). Dikatakannya, hal itu dapat diwujudkan dengan adanya lebih banyak program jangka panjang dibandingkan program jangka pendek. “Memberikan bantuan berupa uang tunai atau menyediakan makanan gratis atau bersubsidi, hanya bisa sedikit menghapuskan sebab-sebab riil kemiskinan,” katanya mencontohkan. -Anung Prabowo