Eksekutif Juga Bisa Kehilangan Motivasi

Ternyata tidak hanya karyawan yunior dan level menengah saja yang mengalami krisis kecintaan pada perusahaan. Sebuah studi baru yang dilakukan di berbagai belahan dunia menemukan, hanya kurang dari separo jajaran eksekutif dan level direktur yang cinta, termotivasi dan peduli penuh pada pekerjaannya.

Mencoba meneliti kebenaran mitos bahwa eksekutif senior lebih bergairah dibandingkan dengan level di bawahnya, survei ini meliputi organisasi di 6 negara –AS, Inggris, Australia, Denmark, Norwegia dan Swedia. Dan, menemukan bahwa hanya 47% kalangan pucuk eksekutif, managing director dan level direktur lainnya yang mengaku “fully engaged”.

Lebih mengkhawatirkan, survei yang melibatkan 16 ribu orang itu menemukan, bahkan di negera yang terkenal eksekutifnya sangat loyal –Norwegia- hanya sekitar separo pekerja yang mengaku sepenuhnya termotivasi dengan perusahaan dan pekerjaannya. Di Amerika, tercatat 43%, jauh lebih baik dibandingkan dengan Inggris yang menempati peringkat terbawah dengan kurang dari sepertiga (29%). Sedangkan di Australia hanya 38% pekerja yang mengaku termotivasi.

“Saya sungguh khawatir tentang hal itu, di mana orang-orang yang berada di posisi puncak bisnis tidak termotivasi bulat-utuh,” ujar Charles Fair dari Right Management, lembaga yang menyelenggarakan riset tersebut.

“Para direktur tidak hanya bertanggung jawab untuk mengelola kinerja dan arah perusahaan, mereka bertanggung jawab untuk memastikan staf yang lebih yunior termotivasi dan bekerja secara produktif,” tambah dia.

Survei juga menunjukkan bahwa tingkat retensi staf juga lebih tinggi ketika karyawan termotivasi. Dihadapkan dengan pasar pencari kerja yang akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang, pengusaha perlu bekerja lebih keras mulai sekarang untuk menarik dan mempertahankan staf berkualitas.

“Perusahaan-perusahaan dengan karyawan termotivasi tinggi lebih unggul dalam menarik talent,” tambah Fair. Ditunjukkan pula bahwa semakin lama seseorang berada dalam satu organisasi akan semakin merasa kehilangan motivasi. Tiga-perempat dari mereka yang telah bekerja di satu perusahaan selama lima tahun atau lebih merasa tak lagi puas atau commit dibandingkan dengan mereka yang baru bekerja di bawah satu tahun.

Menurut Fair, hal itu mengindikasikan perlunya orang HR untuk terus-menerus memotivasi karyawan dalam jangka panjang. Para manajer yang piawai dalam men-develop orang dan pimpinan senior yang pandai menghargai staf merupakan pihak-pihak yang menentukan dalam memotivasi karyawan.

Anehnya, riset yang sama menyatakan, hanya 4 dari 10 karyawan yang percaya bahwa manajer mereka merupakan staff development skills yang baik, dan hampir dua pertiga merasa bahwa pimpinan-pimpinan senior tidak pandai menghargai karyawan.

Dan, hanya seperempat pekerja yang percaya bahwa organisasi mereka merupakan tempat yang bagus untuk bekerja, dan merasa termotivasi dalam organisasi. Seperenam lainnya mengaku menyukai perusahaannya tapi tidak “fully engaged”, dan 3% lagi mengaku commit pada pekerjaannya tapi tidak berpikir bahwa perusahaannya merupakan tempat yang baik untuk bekerja.

Tags: