Ekonomi Sulit, “Job Security” Terpenting bagi Karyawan

Berkiatan dengan kondisi ekonomi global yang sulit sekarang ini, sebuah survei di Inggris menemukan bahwa 50% karyawan takut kehilangan pekerjaan mereka pada 2008 sementara para petinggi HR, dalam prosentase yang hampir sama, justru berharap adanya penambahan karyawan.

Mengapa harapan karyawan berbeda dengan agenda aktual HR? Menurut VP Eksekutif HR pada perusahaan pengiriman DHL Global Express Scott Northcut, dalam kondisi yang tidak menentu, “job security” tak pelak lagi memang merupakan isu utama bagi kebanyakan karyawan.Oleh karenanya, Northcut menyarankan pada segenap pemimpin perusahaan agar memperhatikan tiga hal utama sebagai prioritas agenda mereka. Yakni, transparansi, umpan-balik yang reguler dan komunikasi yang baik.

Komunikasi

“Staf akan merespon sangat positif ketika mereka percaya bahwa manajer lini mereka memperlihatkan upaya-upaya yang bersifat mendengarkan keluhan-keluhan bawahan. Dan, membicarakan seterbuka mungkin mengenai perubahan-perubahan ke yang mungkin akan terjadi,” ujar Northcut.

r35Ditambahkan, dalam kondisi yang sulit, semua karyawan sebaiknya diberi pengakuan atas hasil-hasil kerja mereka. “Kalau pun ada komentar atau penilaian, pastikan itu dilakukan secara konstruktif,” sar4tran dia.

Kemajuan Karir

“Mendorong staf untuk pindah dari domestik ke divisi internasional dalam satu grup perusahaan, atau ke negara lain, akan memungkinkan mereka mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, dan membantu mengembangkan unit-unit bisnis yang lain. Itu merupakan motivator yang besar,” ujar Northcut.

Ditegaskan bahwa semua ini bukan soal uang. Dia percaya bahwa pendekatan yang tepat akan berhasil dengan baik. “Uang tentu penting, tapi lingkungan, tingkat kesempatan dan perhatian terhadap individu sama pentingnya bagi semua orang,” dia mengingatkan.

“Happy Worker”

Para karyawan yang melakukan tugas mereka dengan gembira memberi dampak yang bagus pada pelayanan terhadap konsumen, dan efek berikutnya adalah membantu organisasi mempertahankan bisnis dalam situasi yang penuh tantangan.

Menurut spesialis masalah insentif pada Maritz, sebuah agensi peningkatan kinerja, Julian Bazley, HR bisa menciptakan para “happy worker” salah satunya melalui program pengakuan berbasis nilai-nilai. “Program ini bisa membantu karyawan untuk re-focus pada visi dan nilai-nilai perusahaan,” kata dia.

Lebih jauh Bazley menjelaskan, penghargaan berupa pengakuan bisa dilakukan berdasarkan psikologi, misalnya kartu ucapan terimakasih yang ditantangani oleh manajemen senior. Namun, dia juga menegaskan bahwa komitmen finansial tetap diperlukan untuk mengikat karyawan.

Dengan kata lain, kesimpulannya, meskipun dalam situasi ekonomi sulit mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan perusahaan pada level individu, tetap dimungkinkan untuk melihat lebih ke dalam organisasi. Ketika segalanya dilihat lagi, Anda akan mendapatkan (kembali) staf terbaik di dalamnya.

Tags: ,