Ekonomi Harus Tumbuh 7 Persen Agar Tercipta Lapangan Kerja

Untuk mengatasi pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi 6,5 persen hingga 7 persen. Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus dipacu lebih tinggi dan mencapai 7 persen.

Demikian disampaikan Ekonom Universitas Indonesia Chatib Basri awal pekan ini di Jakarta. “Kita tidak cukup 4 persen saja. Kita butuh 6,5 persen untuk lapangan kerja,” ujar dia.

Menurut Chatib, sebelum krisis ekonomi 1997, pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen dan pertumbuhan konsumsi listrik mencapai 14 persen. Itu artinya, setiap satu persen pertumbuhan ekonomi membutuhkan dua persen pertumbuhan konsumsi listrik.

Namun, setelah krisis ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok hanya mencapai 3 sampai 4 persen. “Jumlah penganggur terbuka juga terus meningkat dari tahun ke tahun,” dia mengingatkan.

Merujuk pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Chatib lebih jauh mengungkapkan, persentase mereka yang bekerja di sektor informal juga mengalami peningkatan. “Ini artinya, sektor formal dan ekonomi tidak mampu menyerap tenaga kerja,” ujar dia.

Kerja Keras

Ekonom yang dikenal sebagai anggota tim sukses SBY-Boediono itu menegaskan, pemerintah perlu kerja keras untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi 7 persen.
Jika mau realistis dan melihat data, untuk pertumbuhan ekonomi 7 persen dibutuhkan rasio investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 30 persen. Saat ini, rasio investasi Indonesia terhadap PDB masih jauh di bawah 30 persen.

“Untuk meningkatkan investasi dibutuhkan tabungan. Namun tabungan tidak akan meningkat jika konsumsi meningkat sedangkan produksi relatif tetap. Saat ini konsumsi kita kan meningkat terus,” ujar dia.

Karena itu, dalam hemat Chatib, untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi 7 persen pemerintah harus fokus mempercepat proyek infrastruktur, jalan,pelabuhan, dan perbaikan air.