Dunia Bisnis Sudah “Melek” SDM

Dulu, HRD (human resource department) selalu dipandang sebagai admin, yang mengurusi gaji karyawan. Posisinya dianggap tidak sejajar dengan bagian-bagian lain dalam sebuah perusahaan, dan tidak strategis. Namun, dewasa ini, dunia bisnis sudah melihat HRD sebagai bagian yang memegang peranan penting dalam memajukan bisnis, baik skala kecil, menengah maupun besar.

Itulah gejela menggembirakan yang teramati oleh Head of Human Resource PT Prudential Life Assurance Mariawati Santoso. Dia menyampaikan hal itu dalam seminar “Pengelolaan SDM untuk Mikro Bisnis” yang digelar di Sky Business Center, Menara Cakrawala, Jakarta Pusat, Kamis (7/9/06). Diikuti oleh 20 pengusaha kecil dari berbagai wilayah di Ibukota, acara diselenggarakan oleh People and Business Magazine bekerja sama dengan PT Persaels.

Tampil mengisi sesi kedua seminar, Mariawati menyampaikan materi tentang “Compensation and Benefits”. Eksekutif yang sebelumnya pernah bekerja sebagai konsultan itu melihat, saat ini istilah-istilah seperti compensation, benefits, reward mulai populer di kalangan dunia usaha. Namun, sejauh ini, pengertiannya kadang masih tumpang tindih. “Reward itu komponen terbesar dari compensation dan benefits.Bila yang pertama berwujud cash, maka yang kedua berupa fasilitas, misalnya cuti.”

Di atas semua itu, kata Mariawati, masih ada yang namanya total reward. “Atasan datang ke kawinan karyawan, itu termasuk total reward, segala sesuatu yang tidak hanya membuat karyawan tertarik bekerja di perusahaan kita, tapi juga membuat mereka retain dan termotivasi.”

Sebelum Mariawati, tampil membuka sesi pertama seminar adalah Mariko Yoshihara dari PT JAC Indonesia. Mariko mengingatkan pentingnya mempekerjakan karyawan yang mampu memotivasi diri dan penuh semangat bagi perusahaan kecil dan menengah. “Kuncinya ada di sistem rekrutmen,” kata dia. “Untuk life cycle perusahaan yang pertama, harus dibagi dua, yakni merekrut karyawan sebagai strategic partner atau front liner untuk jangka panjang, dan kedua merekrut sebagai supporting team yang cocok untuk tiga tahun pertama.”

Seminar yang dibagi dalam tiga sesi itu mengambil bentuk kelas. Pembicara tidak duduk bersama lalu ada moderator yang memandu. Melainkan, satu per satu menyajikan materi secara berurutan, dan setiap saat peserta boleh memotong dengan pertanyaan atau komentar. Sehingga, kendati berlangsung selama lebih dari tiga jam, seminar tidak terasa membosankan. Pembicara lainnya, yang tampil pada sesi penutup adalah Presiden Direktur PT Persaels Iftida Yasar. Pengajar pada pelatihan profesional di berbagai perusahaan itu menyoroti pendekatan manajemen terhadap pekerja sebagai sarana utama mencapai harmonisasi hubungan industrial.

Tags: