Dua Pertiga Karyawan Absen Karena Urusan Pribadi

Bukan untuk mencurigai anak buah sendiri, namun hasil penelitian tentang absensi karyawan ini berguna bagi manajer HR atau jajaran pimpinan perusahaan. Bahwasannya, karyawan yang minta izin dengan alasan sakit, belum tentu benar-benar sakit.

Dua pertiga dari mereka yang menelepon di pagi hari untuk minta izin tidak masuk kerja itu sebenarnya hanya merasa bahwa mereka punya hak untuk tidak masuk, namun tidak mau menggunakan jatah cutinya. Atau, mereka sebenarnya sedang memiliki urusan keluarga atau pribadi yang tidak mereka ungkapkan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh lembaga hukum HR dan ketenagakerjaan CCH di Amerika Serikat menemukan bahwa sakit hanyalah sepertiga dari alasan sebenarnya dari absensi mendadak karyawan.

Selebihnya adalah alasan-alasan lain seperti urusan keluarga, keperluan-keperluan pribadi, “perasaan bahwa yang bersangkutan punya hak untuk tidak masuk” dan stres.

“Dewasa ini orang berusaha mengkompromikan antara tuntutan-tuntutan akan kesibukan pribadi dan kehidupan profesional, dan sedang mencoba mencari jalan terbaik untuk memenuhi keduanya,” ujar analis hukum ketegakerjaan pada CCH Pamela Wolf.

“Organisasi perlu menghentikan ketegangan dengan karyawan berkaitan dengan hal itu, dan menjadi partner untuk membantu mereka, agar bisnis berjalan sukses,” tambah dia.

Kendati demikian, CCH tidak menutup mata akan adanya praktik-praktik yang merugikan perusahaan, dari karyawan yang “nakal” dalam memanfaatkan izin tidak masuk kerja.

Salah satu cara untuk mengatasi hal itu, menurut CCH, perusahaan perlu memiliki program kontrol absensi dan menyediakan dukungan yang layak untuk keseimbangan hidup dan kerja. Misalnya, kerja jarak jauh, mempersingkat pekan kerja dan program pencegahan flu.

Cara lain yang juga dinilai efektif misalnya asistensi karyawan, program kesejahteraan dan jadwal kerja alternatif. Namun, Wolf mengingatkan, sebelum menentukan aksi, perusahaan harus mempertimbangkan masak-masak biaya dari program-program tersebut.

“Sejumlah organisasi melihat program keseimbangan hidup dan kerja sebagai benefit bagi karyawan tanpa banyak ongkos, tapi dalam tatapan jangka pendek ini bisa negatif, dengan konsekuensi pada tingginya absensi mendadak, semangat karyawan, sampai soal rekrutmen dan retensi,” ingat Wolf.

Dilaporkan, 39% perusahaan menyebut absensi karyawan sebagai salah satu problem yang mereka hadapi, dan mereka mengatakan bahwa hampir 9 dari 10 karyawan tidak masuk kerja karena sakit ringan seperti flu dan demam. Alasan lain adalah “terlalu banyak kerjaan/dealine“.

Tags: ,