Dua Juta Lulusan Perguruan Tinggi “Siap” Menganggur

Sedikitnya dua juta lulusan perguruan tinggi dengan aneka jenjang menjadi penganggur. Perlu perubahan paradigma pendidikan agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya menjadi pencari kerja.

Demikian diungkapkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal di sela acara wisuda perdana Universitas Ciputra Surabaya, Sabtu (25/9/2010).

Saat ini, di Indonesia tercatat sedikitnya 14 juta sarjana. Dua juta di antaranya menjadi penganggur setelah lulus. ”Secara sistem, pemerintah berusaha memperbaiki, antara lain, dengan peninjauan kurikulum,” ujar dia.

Perbaikan itu, antara lain, mendorong lebih banyak pelajaran soal kewirausahaan. Pendidikan di Universitas Ciputra (UC) Surabaya menjadi bukti kewirausahaan bisa diajarkan kepada siapa saja.

Hampir seluruh dari 145 lulusan angkatan pertama UC Surabaya sudah bekerja sebelum lulus. Sebagian membuka lapangan pekerjaan sendiri.

”Pemerintah bekerja sama dengan Universitas Ciputra berusaha mengembangkan pendidikan entrepreneurship ke perguruan tinggi lain,” kata Fasli.

Kerja sama antara lain berupa pelatihan pendidikan kewirausahaan untuk 2.000 dosen dari sejumlah perguruan tinggi. Selain itu, juga dibuka inkubasi bisnis di 300 perguruan tinggi. Pemerintah menyediakan sejumlah insentif bagi perguruan tinggi yang mendorong pendidikan kewirausahaan.

”Tapi, ada faktor lain yang tidak kalah penting untuk pengembangan entrepreneurship, yakni kemauan pribadi mahasiswa,” tegas dia.

Pendiri UC, Ciputra mengatakan, pendidikan selama empat tahun di UC tak bertujuan mendapat ijazah saja. Proses pendidikan bertujuan menekankan kepribadian dan sikap seorang wirausaha.

“Ijazah sebenarnya bukan kertas cantik yang didapat hari ini. Ijazah yang paling berharga adalah perubahan mindset, karakter, budaya, kecakapan, dan pemahaman entrepreneurship,” tandas Ciputra.