Dua dari 5 Bos Tidak Bisa Menjaga Kata-katanya

Bagi banyak orang di seluruh dunia, Selasa (2/107) ini adalah hari pertama bekerja di tahun baru setelah melewatkan liburan bersama keluarga dan teman-teman. Namun, bagi sebagian yang lain, maknanya tak lebih dari kembali bertemu dengan bos yang buruk. Sebab, seperti diperlihatkan oleh sebuah studi baru, hampir 2 dari 5 bos tidak bisa menjaga mulutnya, dan lebih dari seperempat menggunakan kata-kata kasar dalam memimpin anak buahnya.

Para manajer yang memiliki kecenderungan seperti itu, menurut studi tersebut, menimbulkan banyak masalah di perusahaan. Yakni, menumbuhkan sikap moral yang buruk, menurunkan angka produksi dan mempertinggi tingkat turnover. “Mereka bilang bahwa karyawan tidak meninggalkan pekerjaan atau perusahaan, tapi meninggalkan bos mereka,” kata associate professor of management pada College of Business, Florida State University Wayne Hochwarter.

Dia bekerja sama dengan dua mahasiswa doktoral di kampusnya untuk menanyai lebih dari 700 orang dari berbagai jenis pekerjaan tentang bagaimana atasan memperlakukan mereka.“Tak ada perlakukan kasar yang bisa dianggap enteng, khususnya dalam situasi-situasi di mana hal itu bisa mengarah pada aksi kriminal,” lanjut Hochwarter.

Kelelahan

Lebih jauh survei menemukan, karyawan dalam hubungan kerja yang diwarnai sikap kasar seperti itu lebih memperlihatkan kondisi kelelahan, ketegangan, kegugupan, perasaan-perasaan tertekan dan hilang kepercayaan. Para peneliti juga mendapati, lingkungan kerja yang baik sering lebih penting ketimbang bayaran, dan bukan kebetulan bahwa sikap moral yang rendah mengakibatkan produksi yang rendah pula.

“Mereka, para karyawan, cenderung menghindari tugas-tugas tambahan, misalnya bekerja lebih lama atau pada akhir pekan, dan secara umum kurang puas dengan pekerjaan mereka,” demikian temuan lain studi tersebut, seperti dilaporkan AP. “Di samping itu, karyawan lebih cenderung untuk pergi jika terlibat dalam hubungan yang kasar ketimbang jika tidak puas dengan gaji.”

Hasil studi tersebut dijadwalkan akan dipublikasikan secara luas pada musim gugur 2007 nanti lewat The Leadership Quarterly, sebuah jurnal yang dibaca oleh kalangan konsultan, manajer dan eksekutif perusahaan. Temuan lainnya termasuk:

— 39% karyawan mengatakan, supervisor mereka gagal memenuhi janji.

— 27% mengatakan, supervisor berkomentar negatif tentang mereka kepada karyawan lain atau sesama manajer.

— 24% mengatakan, supervisor mereka mencampuri urusan pribadi.

— 23% mengatakan, supervisor mereka menyalahkan yang lain untuk menutupi kesalahan atau meminimalisasikan rasa malu.

Tetap Optimis

Hochwarter berpesan, karyawan yang berada dalam situasi-situasi buruk seperti itu sebaiknya tetap optimis. “Penting untuk tetap (berpikir) positif, bahkan ketika Anda merasa sangat kesal dan putus asa, sebab hanya sedikit hubungan yang timpang seperti itu bertahan lama,” kata dia. Yang jelas, sambung Hochwarter, karyawan harus tahu, ke mana mengadu jika mereka mendapat perlakuan kasar atau diskriminatif. Apakah itu ke serikat pekerja atau ke lembaga yang relevan di luar perusahaan.

Hochwarter juga merekomendasikan metode untuk meminimalisasikan ketegangan yang disebabkan oleh supervisor yang kejam. “Tetap tunjukkan diri di tempat kerja. Bersembunyi hanya akan mengganggu karir, khususnya ketika ada kebutuhan untuk memperlihatkan bakat dan kontribusi Anda pada perusahaan.”

Tags: