Divisi HR Makin Dituntut untuk Hasilkan Nilai Tambah

Dalam kompetisi yang semakin ketat saat ini, baik pada tingkat perusahaan maupun negara, tuntutan kepada setiap bagian dari organisasi termasuk Divisi Human Resource (HR) untuk menghasilkan nilai tambah juga semakin tinggi. Bagian yang tidak dapat memberikan nilai tambah hanya akan menghambat pencapaian tujuan dasar organisasi, di samping membuat organisasi menjadi tidak bisa kompetitif.

“Hal itulah yang perlu dilihat antara lain oleh fungsi HR. Mereka harus bisa memberikan nilai tambah bagi organisasi,” kata Managing Director dari Multi Talent Indonesia (MTI) dalam percakapan dengan PortalHR.com di Jakarta. Tuntutan semacam itu, Irwan mencoba memetakan, akan lebih mudah dilihat jika Divisi HR diposisikan sebagai unit bisnis yang mandiri, atau “PT (Perseroan Terbatas)” dengan pelanggan utama organisasi mereka sendiri.

Irwan kemudian merinci dengan memberikan ilustrasi yang mengidentikkan sistem dan program sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan oleh Divisi HR sebagai jasa dan produk. Sejauh mana organisasi akan menggunakan jasa dan produk dari Divisi HR tersebut akan sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh jasa dan produk itu berguna dan memiliki nilai tambah bagi penerima jasa.

Dari sisi manusia, Irwan mengingatkan, kebutuhan utama organisasi adalah ARM, attract, retain dan motivate orang-orang yang tepat. “Nah, sejauh mana Divisi HR dapat menjawab kebutuhan “pelanggan” utama mereka melalui berbagai sistem dan program SDM yang dapat mereka hasilkan dan jalankan, akan menentukan posisi mereka di mata organisasi, apakah hanya sekedar administrator kepegawaian, atau menjadi partner bisnis bagi organisasi,” kata Irwan seraya menegaskan, dalam dunia yang semakin kompetitif saat ini, jika “sekedar administrasi kepegawaian” sudah tidak memadai lagi.

“Kegiatan administrasi Divisi HR tetap selalu diperlukan dan harus semakin efisien, namun nilai tambah Divisi HR terletak pada bagaimana mereka bisa membangun budaya kerja yang tangguh, lingkungan kerja yang menyenangkan dan manusia-manusia yang hebat. Ini lebih dari sekedar pekerjaan administrasi,” ujar Irwan. Untuk mencapai tujuan tersebut, menurut dia, diperlukan kepemimpinan yang kuat serta sistem dan program SDM yang baik dan terintegrasi.

Masih Ketinggalan

Berkaitan dengan segi sistem dan program SDM, jika menggunakan benchmark organisasi dan perusahaan global di Eropa, Asia dan Amerika, maka secara umum perusahaan-perusahaan di Indonesia relatif masih ketinggalan. Irwan mencontohkan, banyak perusahaan yang masih menggabungkan Divisi HR dengan General Affairs, atau meletakkannya di bawah Divisi Operasi maupun Keuangan. “Padahal, tuntutan kompetensinya jauh berbeda,” kata Irwan.

“Berapa banyak organisasi yang sudah menerapkan sistem performance management berbasis Balanced Scorecard? Competency-based HR? Executive Compensation menggunakan stock option? Konsep-konsep ini sudah populer di Amerika 10-15 tahun yang lalu, sementara di Indonesia baru beberapa tahun terakhir,” sambung Irwan yang kemudian berharap akan semakin banyak perusahaan maupun organisasi di Tanah Air yang menerapkan, atau bahkan menciptakan, sistem dan program HR maupun manajemen modern. Sehingga, secara kumulatif akan meningkatkan kinerja negara.

Tags: