Direktur HR Tak Mungkin Jadi CEO?

Harian Washington Post pertengahan Agustus lalu menurunkan sebuah berita yang menarik berkaitan dengan isu human resource (HR). Seorang Direktur HR dipromosikan menjadi Presiden Direktur. Namanya Meg Gilbert Crofort, berusia 53 tahun dan itu terjadi di Walt Disney World. Sebelumnya, Crofort yang telah berkarir selama 27 tahun di perusahaan tersebut pernah menjabat sejumlah posisi penting di bidang personalia, sales dan operation. Sementara, gelar sarjananya ia dapat dari bidang marketing dan gelar master dari administrasi bisnis.

Bagi insan HR, berita tersebut menarik bukan pada fakta bahwa Crofort merupakan perempuan pertama yang memimpin Disney sejak beroperasi pada 1971. Melainkan, lebih karena dia berangkat dari posisi Direktur HR. Boleh dibilang ini kejadian langka. Sejumlah pakar dan konsultan HR di Tanah Air membenarkan apa yang telah menjadi rahasia umum selama ini bahwa orang HR sangat sulit untuk tidak mengatakan hampir mustahil bisa menduduki posisi-posisi puncak dalam perusahaan.

Menurut Managing Consultant Watson Wyatt Indonesia Lilis Halim, kendala saat ini adalah HR belum terlalu strategic. “Masih sangat administratif sekali, sehingga sulit untuk masuk ke bisnis,” kata dia. Dalam bahasa HRGA & ESR Department Head PT Astra Internasional Alexandra A. Aprilina, orang HRD umumnya masih banyak yang terlibat di bidang administrasi dibandingkan dengan terlibat pemikiran strategi perusahaan, sehingga tahu banyak tentang proses bisnis dan piawai soal seluk-beluk lapangan.

“Umumnya karir mereka tidak berpindah bidang, sehingga jarang mendapatkan kesempatan untuk merasakan jadi orang operasional atau bisnis,” kata dia. Faktor itulah, menurut Alexandra, yang membuat orang HR sulit atau jarang menduduki posisi puncak. Faktor lain, menurut dia, perusahaan jarang menempatkan “orang terbaiknya” di bidang HR. Namun, di samping dua faktor tersebut, Alexandra mengingatkan adanya “faktor-X” yang tak kalah penting, yakni menyangkut kemampuan individu yang meliputi kompetensi, karakter, wawasan serta motivasi dari yang bersangkutan.

Persoalan Praktis

Seolah meringkas pendapat Lilis dan Alexandra, Managing Director Multi Talent Indonesia (MTI) Irwan Rei mengatakan, sulitnya orang HR menduduki jabatan level direktur utama merupakan persoalan praktis. Irwan memberi gambaran besar begini: CEO atau jabatan-jabatan puncak di perusahaan harus diisi orang-orang yang mengerti bisnis, marketing dan finance. Intinya, bagaimana caranya memberi nilai tambah pada perusahaan sebagai organisasi yang berorientasi profit. Sehingga bahasa yang harus dimengerti adalah bahasa keuangan, misalnya bagaimana memberi jasa kepada pasar atau klien.

Dari gambaran itu, demikian Irwan, orang yang lebih mudah naik ke jenjang dirut atau CEO adalah mereka yang berasal dari bagian finance, sales dan marketing karena mereka tahu bagaimana memuaskan pelanggan. “Orang HR umumnya berlatar pendidikan Psikologi. Tugas mereka memotivasi dan mengelola manusia, menempatkan mereka di posisi yang tepat, menyusun gaji, memberi pelatihan. Tidak mudah menghubungkan kegiatan-kegiatan itu dengan kebutuhan bisnis yang beorientasi pada keuntungan tadi,” kata dia.

“Pengalaman saya berhubungan dengan orang-orang HR, mereka tidak terlalu suka angka-angka, itung-itungan, pekerjaan mereka bersifat kualitatif. Mereka tidak mudah dan tidak nyaman membaca laporan keuangan. Padahal itu bahasa yang harus dimengerti. Mereka tidak nyaman bicara indikator-indikator keuangan. Ada gap antara bahasa yang diperlukan dan kapasitas mereka. Masuk akal saja sih karena memang fokus mereka beda. Itu menjadi faktor pertama mengapa mereka sulit jadi dirut atau CEO.”

Faktor kedua, sambung Irwan, tak mudah bagi orang HR untuk bisa langsung menunjukkan apa yang telah mereka lakukan. Apa yang mereka kerjakan tidak bisa langsung dilihat kontribusinya pada keberhasilan atau kemajuan perusahaan. “Kalau bagian sales sukses melakukan penjualan, langsung bisa dilihat besaran angkanya, tapi kalau bagian HR melatih orang, apa hasil pelatihan tidak bisa langsung dilihat,” Irwan mencontohkan.

Ketiga, suka tidak suka, di mana-mana, di Amerika sekali pun, demikian tutur Irwan, umumnya orang-orang HR datang dari sekretaris. “Dia sudah berkarir lama di perusahaan, lalu naik menjadi manajer HR, jadi bukan orang yang secara khusus dididik untuk jadi manajer HR,” kata dia sambil mengingatkan kembali bahwa tanggung jawab HR bukan sekedar mencatat absensi, melainkan meng-attract, me-retain, memotivasi dan men-develop karyawan.

Mereka juga harus membangun sistem agar organisasi mendapatkan orang-orang terbaik. “Dan, itu bukan ilmu sembarangan. Maka, kalau orang hanya diangkat dari, maaf, jabatan sekretaris, tidak bisa memenuhi tuntutan itu,” kata dia.

Banyak Berubah

Irwan tidak menutup telinga dari rumor yang makin santer terdengar akhir-akhir ini, bahwa kondisi dunia HR di Indonesia sudah banyak berubah dan keadaannya telah cukup menggembirakan. Sebagaimana dipercaya Lilis Halim dari Watson Wyatt yang mengatakan, “Untuk saat ini sudah banyak perubahan yang terdapat di HR di Indonesia, di mana mereka merupakan strategic partner dari bisnis.” Namun, bagi Irwan masih perlu dipertanyakan, sejauh manakah perubahan itu?

“Di luar, perubahan itu memang cukup terlihat. Sudah banyak HR yang menjadi strategic partner, tapi di sini sebagian besar masih dalam taraf personalia,” kata Irwan. Lalu, ia memberikan ilustrasi. Di negara-negara maju, dari 100 manajer HR, 40 – 60 orang sudah masuk level strategic partner tadi. Namun, di Indonesia, dari 100 manajer HR, baru 5 – 10 yang telah mencapai tingkatan itu.

Irwan melihat apa yang terjadi di Walt Disney di atas merupakan kasus istimewa. “Saya sudah baca berita itu, dan kalau kita perhatikan, Direktur HR yang dipromosikan itu sebelumnya sudah muter-muter di jabatan-jabatan lain yang strategis. Latar pendidikannya pun marketing” kata Irwan. Dengan kata lain, seperti diungkapkan Lilis Halim, dan juga tersirat dari pendapat Alexandra dari PT Astra, orang dari bagian HR bisa saja untuk menjadi CEO…tapi…di masa yang akan datang. Setelah mereka benar-benar bisa menjadi strategic partner dan bukan hanya admin.

Tags: ,