Diperlukan Stimulus Ekonomi untuk Selamatkan Ketenagakerjaan

Tekanan resesi ekonomi memaksa banyak perusahaan mengurangi tenaga kerja. Di negara yang telah semaju Amerika Serikat pun, hal itu tak terelakkan. Bahkan, tingkat pengangguran di AS melonjak hingga ke titik tertinggi dalam 16 bulan terakhir. Paket stimulus ekonomi dari pemerintah akan menyelamatkannya.

Dilaporkan, PHK melanda hingga setengah juta pekerja pada Desember 2008. Dalam empat bulan terakhir, sudah ada 1,9 juta penganggur baru di AS. Dan, percepatan jumlah penganggur meningkat pada akhir tahun. Kondisi ini bakal tertolong dengan paket stimulus Presiden AS terpilih, Barack Obama.

Di Washington, Sabtu (10/1) Obama mengatakan, paket stimulus ekonominya akan menyelamatkan atau menciptakan tiga hingga empat juta lapangan kerja. Sepanjang tahun 2008, sudah ada 2,6 juta orang mengalami pemutusan hubungan kerja. Dalam sejarah ketenagakerjaan AS, jumlah PHK ini paling besar yang pernah terjadi setelah Perang Dunia II. Semakin memburuknya keadaan perekonomian di AS menjadikan krisis tahun 2008 merupakan yang terpanjang sejak terjadi Depresi Besar tahun 1930-an.

”Laporan ketenagakerjaan ini mengecewakan, menggambarkan betapa buruknya keadaan pada 2008 lebih dari yang kita bayangkan. Kali ini merupakan kenaikan pengangguran terbesar setelah sejarah Perang Dunia II,”  ujar analis FTN Financial in New York Lindsey Piegza, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan tingkat pengangguran mencapai 7,2 persen pada bulan Oktober lalu, naik dari 6,8 persen pada November. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Januari 1993. Penyebab utamanya adalah pemutusan hubungan kerja besar-besaran di semua sektor kecuali pemerintah, pendidikan, dan kesehatan.

Stimulus Fiskal

Sementara itu, dalam analisisnya di Harian Kompas, Senin (12//1/08), pengamat ekonomi M Chatib Basri mengatakan, krisis keuangan global membawa kembali ingatan ke depresi besar pada 1930-an, dan yang harus dilakukan adalah kebijakan yang bersifat kontrasiklus. Di banyak negara, termasuk Indonesia, bank sentral mulai menurunkan tingkat bunga dan pemerintah berbicara tentang stimulus fiskal.

“Berikan stimulus fiskal kepada masyarakat yang memiliki kecenderungan mengonsumsi yang tinggi. Itu artinya, peningkatan pendapatan bagi kelompok menengah bawah,” ujar Chatib. “Jika mereka memperoleh penghasilan dari pekerjaan, dan inflasi terjaga, konsumsi dalam negeri dapat didorong. Di sini program-program seperti cash transfer atau cash for work dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) penting. Demikian juga penciptaan lapangan kerja melalui pembangunan infrastruktur,” tambah dia.

Ada pun stimulus untuk industri, menurut Chatib, bisa saja tapi proporsinya mungkin tak sebesar stimulus untuk meningkatkan daya beli. Jika fokus stimulus diberikan kepada industri (sisi suplai), mungkin benar produksi akan meningkat, tenaga kerja terserap. Tapi, jika tak ada yang membeli—karena daya beli lemah—perusahaan akhirnya akan merugi, PHK akan terjadi.

Tags: