Di Seluruh Dunia, CEO Perempuan Masih Sangat Jarang

Dalam dunia usaha, sampai saat ini perempuan ternyata masih ketinggalan dibandingkan dengan laki-laki. Terutama dalam kaitan dengan posisi puncak, hanya ditemukan hampir satu perempuan dari 10 orang anggota komite eksekutif atau dewan direktur di berbagai belahan dunia. Dalam hal ini representasi di Amerika lebih menggembirakan dibandingkan dengan di Eropa dan Asia.

Sebuah studi baru yang dilakukan terhadap 300 perusahan terbesar di dunia dalam ukuran kapitalisasi pasar (100 di Eropa, 100 di Amerika dan 100 di Asia) menemukan, jumlah perempuan yang duduk di tingkat dewan dan komite eksekutif di Amerika dan Kanada dua kali lebih besar dibandingkan di Eropa.

Ekonomi di Asia bahkan lebih buruk, dengan 9 kali lebih kecil dibandingkan dengan Amerika. Survei tersebut dilakukan oleh perusahaan international executive search Christian & Timbers dan agensi komunikasi Capital Com.

Sementara di Inggris, sebuah survei terpisah yang dilakukan perusahaan konsultan Deloitte menemukan bahwa tidak ada perubahan dalam kecilnya angka hampir 3 persen direktur perempuan di perusahaan-perusahaan terbesar di negera tersebut. Hanya 9 dari 350 firma dan hanya 2 dari 100 perusahaan dipimpin oleh perempuan.

Apakah kenyataan tersebut merupakan problema lingkungan atau perempuan sendiri? Dua-duanya, menurut Florence Magne dari Christian & Timbers. “Sikap cenderung mementingkan pencapaian karier ketimbang kepuasan keluarga sebenarnya ada pada diri perempuan. Tapi, model sosial kita, jika itu berkembang, masih konservatif dengan stereotip-stereotip yang kuat tentang peran, perilaku dan posisi yang sesuai dengan perempuan.”

“Ditambah lagi, organisasi dari perusahaan-perusahaan besar secara tradisional diatur berdasarkan pola-pola laki-laki yang sering tidak menguntungkan direktur perempuan,” tambah dia seperti dilaporkan Management-issues.

Pada setiap perusahaan di Amerika yang disurvei, terdapat sedikitnya satu perempuan dalam tubuh organisasinya. Sedangkan, 18 perusahaan di Eropa dan 66 perusahaan di Asia sama sekali tidak memilikinya. Sebanyak 29 perusahaan di Amerika memiliki anggota dewan dan komite eksekutif yang terdiri lebih dari 20 persen perempuan, berbanding dengan 5 persen di Eropa dan 2 persen di Asia.

Survei juga menemukan, keberadaan perempuan di tingkat dewan umumnya dalam peran supervisi laporan-laporan dan di komite eksekutif biasanya dalam peran operasional. Secara regional, Kanada memperlihatkan representasi yang sangat bagus, dengan 19 persen komite eksekutif adalah perempuan, berbanding dengan Amerika Serikat 14,8 persen.

Sedangan regional Eropa bervariasi. Yang tergolong menggembirakan Swedia (27 persen) dan Finlandia (17.6) persen. Selebihnya: Belgium 1.8 persen,  Italia 2.6 persen, dan Spanyol 3.1 persen. Di Asia, secara umum sulit bagi perempuan untuk memimpin perusahaan besar (2.1 persen). Tapi, China tercatat cukup bagus (5.7 persen), juga Korea (4.5 persen). Adapun India hanya 1.8 persen dan Jepang 1.4 persen.

Di Eropa hanya ada satu CEO perempuan di perusahaan besar yakni Anne Lauvergeon di Areva (perusahaan energi). Di Amerika ada dua, masing-masing Indra Nooyi di Pepsico dan Irene B Rosenfeld di Kraft Foods.

Florence Magne mengatakan, lebih banyak perempuan di posisi puncak akan memberikan kekuatan yang positif. “Perempuan memberi sudut pandang yang melengkapi dalam organisasi, fleksibilitas yang lebih besar dan kecerdasan emosional serta kapasitas untuk menjadi pemain tim yang kuat. Mereka sering dipandang sebagai agen perubahan,” kata dia.

Tags: