Di Jepang, Semakin Sedikit yang Mau Jadi Pemimpin

Jepang mengalami krisis kepemimpinan di masa depan, bukan karena tidak ada calon yang pantas, tapi semakin banyak yang menolak untuk dipromosikan menjadi pemimpin.

Jepang mengalami tren yang sedikit berbeda dengan Indonesia. Bila di Indonesia orang-orang berebut menjadi pemimpin, di sana, semakin lama semakin banyak yang enggan menjadi pemimpin.

Demikian diutarakan President Management Service Center (MSC) Tokyo Kiyoyuki Takeuchi pada salah satu sesi Kongres Nasional II Assessment Center Indonesia, di Hotel Borobudur, Jakarta, pekan lalu.

MSC adalah pembawa bendera Development Dimension International (DDI) di Jepang. Studi terakhir yang dilakukan oleh MSC menunjukkan, Jepang akan sulit mencari pemimpin masa depan. Selain karena jumlah penduduk diprediksikan akan semakin sedikit, penelitian juga menemukan 49% karyawan menolak untuk mendapatkan promosi.

Di antara responden yang disurvei hanya 19% yang bersedia untuk dipromosikan. Sementara, 32% belum memutuskan, masih terbuka untuk dibicarakan.

“Semakin banyak yang menolak untuk dipromosikan karena mereka merasa tuntutan pekerjaan akan semakin banyak, jam kerja akan lebih panjang bila menjadi manajer. Sementara, tidak jarang, pendapatan manajer tidak lebih banyak dibandingkan staf-nya, karena manajer tidak lagi mendapatkan uang lembur,” ujar Kiyoyuki dalam Bahasa Inggris.

Kiyoyuki menambahkan, bila generasi 1970 dan 1980 di Jepang adalah generasi pekerja keras, generasi sekarang sangat berbeda. Mereka lebih memilih mempunyai waktu yang berharga untuk diri sendiri dan keluarga.

Persentasi yang menolak mendapatkan promosi di Jepang sangat tinggi. Sebagai pembanding, secara global, 35% karyawan ingin segera menjadi pemimpin. Dan, 35% masih memikirkannya, sementara hanya 30% yang menolak dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi.

Selain keengganan untuk menjadi pemimpin, survei juga menemukan ketidaksiapan untuk menjadi pemimpin: 73% pemimpin di Jepang mengaku, mereka tidak siap untuk menerima promosi.

“Semakin banyak orang yang tidak termotivasi untuk menjadi pemimpin membuat aktivitas talent management semakin penting di Jepang. Calon pemimpin yang potensial harus ditemukan seawal mungkin agar bisa dikembangkan untuk menjadi pemimpin yang hebat,” simpul Kiyoyuki.

Tags: