Di Indonesia, Software HR Lebih Diperlukan

Human Resource Information System (HRIS) jauh lebih diperlukan di Indonesia dibandingkan negara-negara lain, khususnya negara maju seperti di Eropa, demikian kata Presiden dan Chief Technical Officer DataOn Gordon Enns.

Pasalnya, menurut Gordon, jumlah karyawan di Indonesia cenderung lebih banyak dibanding negara-negara lain. Contohnya, perusahaan dengan penghasilan jutaan dollar Amerika di Indonesia, mempunyai karyawan 50 hingga 100 orang. Di Eropa, perusahaan dengan penghasilan yang sama, jumlah karyawannya hanya 5 sampai 10 orang.

“Di Indonesia sulit ditemui perusahaan dengan karyawan 5 sampai 10 orang saja. Perusahaan seperti itu di Eropa banyak sekali,” ujar Gordon dalam obrolan dengan portalhr.com di Jakarta.

DataOn adalah perusahaan software yang berdiri sejak tahun 1999. Melihat peluang yang besar dalam bisnis software Human Resource (HR), Gordon yang juga pemilik DataOn bersama beberapa rekannya orang Indonesia, mengalihkan bisnis mereka sehingga lebih memusatkan diri pada software HR.

“Pada tahun 2001 masih belum banyak perusahaan yang menyediakan software HR. Yang ada hanyalah pemain internasional yang software-nya tidak dibuat berdasarkan kebutuhan HR lokal, dan juga dengan tarif internasional,” kenang Gordon.

Sejak beralih ke software HR, nama DataOn pun semakin melejit dan dikenal sebagai salah satu pemain yang cukup diperhitungkan di bidang HRIS. DataOn mempunyai produk yang sederhana maupun yang profesional, sekelas produk software internasional seperti dari SAP dan Oracle. Semua software merupakan hasil rancangan tim DataOn sendiri berdasarkan data dan survei kebutuhan user di Indonesia.

Sudah Baik

Menurut Gordon, penerimaan terhadap software HR di Indonesia sudah sangat baik. Tidak sulit meyakinkan direktur HR di sini akan pentingnya software tersebut. ”Tapi, yang sulit meyakinkan mereka mengenai cost yang diperlukan untuk software HR tersebut,” kata pria kelahiran Winnipeg, Kanada itu.

Gordon menceritakan, dari pengalaman menjual software HR selama ini, para direktur HR biasanya sangat tertarik dengan produk-produk strategis yang ditawarkan. Tapi, karena kendala pembiayaan, banyak yang akhirnya hanya membeli software yang lebih bersifat administrasi saja, seperti payroll, time attendance dan sebagainya.

”Hal itu karena sulit meyakinkan divisi yang lain, terutama divisi yang berhubungan dengan keuangan. Perusahaan-perusahaan menghabiskan sampai 60% cost untuk biaya karyawan, yaitu gaji dan lain-lain. Tetapi untuk mengelola karyawan, mereka tidak mau mengeluarkan investasi. Biaya untuk pengelolaan karyawan jauh lebih kecil dibandingkan biaya marketing atau promosi, misalnya,” tambah Gordon.

Karena itulah, DataOn yang banyak memiliki klien dari industri perhotelan, membuat paket-paket software HR yang sangat murah. Sebuah software yang meliputi semua kegiatan administrasi seperti absensi, cuti, shift, payroll dan data karyawan hanya dijual 5.000 dolar Amerika. Software ini sangat mudah digunakan dan sudah berbasis web. Karena itu bisa diakses dari mana saja asal memiliki koneksi internet. Biasanya software ini juga disatukan di dalam intranet perusahaan.

Kapan Dibutuhkan?

Menurut Gordon, bila jumlah karyawan dalam suatu perusahaan di bawah 50 orang, maka software HR kemungkinan tidak diperlukan. Kecuali, misalnya pada perusahaan konsultan, di mana semua karyawan sangat mobile dan juga sangat canggih, maka perusahaan perlu memberi mereka perhatian khusus dengan bantuan software HR.

DataOn yang memiliki 80 orang karyawan sebagian besar masih menjual software yang bersifat administratif. Gordon mengakui, berbeda dengan di luar negeri di mana software HR yang digunakan lebih bersifat strategis, di Indonesia sebagian besar masih administratif. ”Mereka merasa sangat terbantu dengan adanya software HR seperti ini sehingga waktu mereka bisa digunakan untuk memikirkan hal-hal yang lebih strategis,” ujar Gordon.

Tags: