Desy Ratnasari: HR Berperan Ciptakan Karyawan Berdaya

desy Ratnasari1

Di tengah aktivitasnya di dunia entertainment, Desy Ratnasari, M.Psi ternyata juga sibuk di dunia pendidikan. Desy saat ini menjadi pengajar honorer di Fakultas Psikologi Unika Atmajaya.

“Supaya otak saya tidak beku, saya memilih untuk mendalami ilmu yang saya punya dan mendapatkan wawasan baru dengan cara bergelut langsung di institusi pendidikan,” ujar Desy saat ditemui PortalHR.com di sela-sela acara Launching buku  “Pemimpin dan Perubahan, Langgam Terobosan Profesional Bisnis Indonesia” di Unika Atmajaya hari Sabtu (19/1) yang lalu.

Sebagai lulusan Fakultas Psikologi yang seringkali berkaitan dengan dunia HR, Desy tidak setuju bahwa sosok HRD hanya dibutuhkan untuk menangani teknis masalah kepegawaian. “Orang HR tidak hanya mengurusi cuti, resign saja, tetapi mereka juga ikut andil untuk menciptakan pegawai yang berdaya, bagaimana pendekatan dari psikologisnya dan juga kompetensi karyawan,” ujar Desy ketika ditanya pendapatnya mengenai dunia HRD.

Selain itu Desy juga menekankan sisi humanis dalam diri praktisi HR. “Seorang HR seharusnya berkontribusi juga dalam pengembangan diri karyawannya, how to create people, how to growth people, juga bagaimana efek dari kebijakan kantor kepada diri karyawan itu perlu dipikirkan HRD-nya,” tambah Desy.

Meski senang dengan dunia psikologi dan mengamati manusia, Desy belum tertarik untuk menjadi seorang HR Profesional. “Walaupun pernah ditawari untuk menjadi HR di sebuah perusahaan, saya memilih untuk menjadi freelancer saja, karena tidak terbiasa dengan ritme kerja office hours,” tutur Desy.

Artis yang mengambil program pascasarjana di Psikologi UI ini mengakui bahwa bekerja di kantor merupakan kegiatan di luar kebiasannya. “Saya dari umur 15 tahun sudah bekerja di lapangan, jadi saya membayangkan kalau harus duduk di kantor selama 9 to 5 maybe more, saya akan pusing  sendiri,” tutur Desy yang juga mengaku pernah alergi akibat magang di kantor beberapa minggu.

Perbedaan itu yang membuat Desy memilih menjalani aktivitasnya sebagai pegawai lepas saja. “Menjadi bagian dari konsultan atau dunia akademisi yang freelance itu lebih memungkinkan untuk saya lakukan,” ujar Desy.

Ketika ditanya apa yang membedakan suasana karir dulu dan saat ini, Desy menjawab bahwa sekarang kebanyakan orang sudah dimudahkan oleh fasilitas. “Industrinya beda sekarang yah, kita dituntut untuk serba cepat. Bagusnya adalah banyak karya yang dihasilkan, namun kadang terpaksa menjadi instant,” ujar Desy.

Oleh sebab itu, Desy tidak heran bila generasi saat ini berbeda karakternya dibandingkan anak-anak muda di eranya. “Mungkin karena banyak aspek yang memudahkan sehingga daya juang seseorang menjadi berkurang. Keinginan atau jiwa mental baja mereka untuk mengejar sesuatu ataupun bekerja tidak sekuat orang-orang dulu,” ujar Desy.

Ia mengaku saat masih remaja dulu harus menunggu sampai moment ulang tahun baru bisa dibelikan sesuatu oleh orangtuanya. “Jadi jika tidak dibelikan, kita berusaha cari cara supaya dapat, yah mau gak mau kita buat sendiri. Mungkin hal itu juga bisa membuat generasi sekarang kurang sense of creativity-nya,” tambah Desy.

Sisi positifnya dari perubahan ini adalah kita bisa belajar lebih banyak lagi. “Karya dari siapa pun adalah pintu gerbang untuk menuju perubahan. Saatnya generasi muda memimpin dengan baik melalui sarana yang ada,” ujar Desy. “Kalau bisa, mereka juga lebih menghargai profesinya, menghargai waktu dan usaha mereka, sehingga kelebihan mereka jadi melengkapi yang lain,” pungkas Desy. (*/@nurulmelisa)

 

*) Foto 1: Desy Ratnasari menjadi pembawa acara Launching Buku “Pemimpin dan Perubahan, Langgam Terobosan Profesional Bisnis Indonesia” duduk bersama ketiga penulis: Hora Tjitra, Hana Panggabean, Juliana Murniati.

*) Foto 2: Desy Ratnasari berpose dengan Dra. Eunike Sri Tyas Suci, PhD, Ketua Program Studi Magister Sains Psikologi.

Tags: ,