Dear Yahoo, Ini Bukti Bekerja Dari Rumah “Works”

telecommuting-updated_24125

Keputusan Marissa Mayer untuk melarang telecommuting (bekerja jarak jauh) diganjal beberapa pihak. Bila ia mengatakan biaya telecommuting mengakibatkan penurunan speed dan kualitas, ternyata statistik mengatakan sebaliknya.

Bahkan menurut data yang dirilis bank data Inc.com kebijakan Mayer tersebut akan membebani perusahaan dalam hal produktivitas, biaya sewa kantor, dan kebahagiaan karyawan Anda.

Survey menunjukkan bahwa tren telecommuting semakin meningkat. Jika di tahun 2005 pekerja telecommuting hanya mencapai 1,5 juta orang, sementara di tahun 2011 meningkat 60% menjadi 2,4 juta pekerja.

Pria atau wanita yang lebih banyak memilih untuk telecommuting? Ternyata mayoritas pekerja telecommuting adalah pria (53%). Hal ini menandakan mengurusi anak bukan alasan satu-satunya pekerja memilih bekerja dari rumah. Berdasarkan riset tersebut, 79% pekerja menginginkan bekerja dari rumah.

Yang mengejutkan lagi 53% pekerja telecommuting bersedia bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu, sementara hanya 28% pekerja non telecommuting yang mau bekerja dengan frekuensi waktu yang sama.

Keuntungan lainnya dari telecommuting adalah penghematan. Sekitar 11 ribu US Dollar per tahun penghematan dari biaya sewa tempat dan lain-lain. Selain itu 2000-7000 US Dollar pekerja telecommuting mengaku bisa menghemat pengeluaran mereka selama setahun karena kurangnya biaya transportasi.

Walau begitu, telecommuting memang tidak cocok untuk semua jenis pekerjaan. Dari survey E-Glenn Dutcher, 6-10% pekerja remote kurang produktif dibandingkan pekerja kantor ketika mengerjakan pekerjaan pengulangan. Namun 11-20% pekerja remote sangat produktif ketika mengerjakan tugas yang kreatif. Data selengkapnya dapat dilihat di infografik berikut ini:

 

 

Tags: ,