Dave Ulrich: HR Harus Jadi Aktivis yang Kredibel

Kekayaan intelektual perusahaan, talent, berbagai aset yang tak terlihat dan segala bentuk kemampuan yang dimiliki perusahaan, semua itu berasal dari kompetensi dan komitmen para profesional departemen HR.

Demikian ditegaskan oleh tokoh pemikir HR terkenal Dave Ulrich yang merupakan profesor bisnis Ross School of Business pada University of Michigan. Sekolah tersebut melakukan studi yang menegaskan posisi HR sebagai bagian penting dari kemampuan kompetitif perusahaan dalam fungsi-fungsi transaksional.

“Kini tak cukup lagi bagi profesional HR untuk hanya berkontribusi di lini bawah. Mereka perlu tahu bagaimana memenuhi panggilan yang menantang itu, dan memiliki kemampuan untuk memberdayakan pengetahuan mereka,” ujar penulis buku.

Dalam hemat Ulrich, profesional HR harus menjadi ahli dalam area-area kompetensi baru, dan yang terpenting dari itu adalah menjadi “aktivis yang kredibel”, atau menampilkan diri sebagai “HR yang ber-attitude”.

“Para profesional bidang HR harus kredibel dan aktif. Mereka harus bisa dipercaya, disegani, menjadi pendengar bagi siapa pun dan di atas semua itu harus punya sudut pandang dan berani mengambil posisi,” papar dia.

Bagi Ulrich, kredibel saja tidak cukup. Seorang profesional HR yang kredibel tapi tidak memerankan diri sebagai aktivis hanya akan disegani, tapi tidak akan punya banyak pengaruh. Sebaliknya, diingatkan juga, aktivis tapi tidak kredibel mungkin punya banyak ide, tapi tidak mau mendengarkan orang lain.

Yang mengkhawatirkan, dari hasil studi yang dilakukan Ulrich, hanya seperlima dari profesional HR yang kini siap untuk menjadi aktivis yang kredibel bagi bisnis perusahaan mereka.

“Enampuluh persen profesional HR bisa menjawab kebutuhan akan keahlian yang penting ini dengan training yang benar dan kesadaran, sementara sisanya, duapuluh persen mungkin tidak memiliki keahlian yang cocok atau pun personalitas untuk mendengarkan dan beraksi,” terang Ulrich. Ditambahkan, untuk bisa menjadi aktivis yang kredibel, profesional HR harus menjadi “pengawal budaya dan perubahan”.

Budaya, dijelaskan, mencakup pola-pola beragam aktivitas. Bisa dimulai dengan memastikan harapan-harapan pada customer eksternal, dan kemudian menerjemahkan harapan-harapan itu ke dalam karyawan (internal) dan perilaku-perilaku organisasi.

“Profesional HR yang sukses harus membantu mewujudkan budaya dan membangun disiplin-disiplin untuk menggerakkan perubahan di seluruh lini organisasi.”
“Melalui implementasi strategi, proyek-proyek atau inisiatif-inisiatif, mereka membantu mengubah apa yang diketahui menjadi apa yang dilakukan,” saran Ulrich.

Tags: