Dampak Kebijakan HR terhadap Kinerja Bisnis Makin Nyata

Perlahan tapi pasti, perusahaan yang membuktikan keuntungan nyata dari kebijakan-kebijakan HR semakin banyak. Perusahaan-perusahaan ini memperlihatkan dampak kebijakan HR dalam mencapai keseluruhan tujuan bisnis. Siapa mereka?

Laporan hasil penelitian lembaga riset bisnis global The Conference Board, New York mengungkapkan, perusahaan atau organisasi seperti Hewlett-Packard, Capital One dan Universitas Harvard kini tengah memanfaatkan pendekatan “evidence-based” terhadap HR mereka untuk menunjukkan bagaimana praktik-praktik HR yang selaras dengan perusahaan membantu mereka mencapai tujuan-tujuan kinerja bisnis.

Kendati telah menjadi “jargon” di hampir setiap perusahaan, dan diyakini bahwa human capital (HC) sangat penting, namun belum banyak yang bisa mengambil manfaat darinya sebagai sarana untuk memantapkan keuntungan kompetitif organisasi. Padahal, diingatkan, tekanan akan kebutuhan untuk meng-attract dan me-retain talent semakin hari kian kuat. Menurut survei, baru dalam beberapa tahun terakhir ini saja mulai banyak perusahaan yang secara empiris memperlihatkan pengaruh praktik HC terhadap hasil-hasil bisnis.

Evidence Based Human Resources (EBHR) telah dikembangkan oleh para peneliti pada The Conference Board sebagai jalan untuk beralih dari pendekatan efisiensi atau ROI ke pengukuran-pengukuran HR. EBHR berangkat dari keyakinan bahwa talent menggerakkan performance. Dimulai dengan pengukuran finacial dan kinerja organisasi, para profesional HR kemudian mengidentifikasi strategi-strategi HC yang secara empiris menggerakkan hasil-hasil yang diinginkan.

Untuk menguji pendekatan EBHR tersebut, The Conference Board mengadakan program Evidence-Based HR in Action, dan memilih sejumlah perusahaan besar sebagai pioner, antara lain Hewlett-Packard, Capital One dan Universitas Harvard. “Pengembangan-pengembangan terbaru dalam manajemen HR berorientasi mengubah cara berpikir manajer HR,” ujar senior research advisor Management Excellence Program pada The Conference Board John Gibbons, yang juga penulis-peserta laporan penelitian tersebut.

“Termasuk, mengubah cara mereka mengumpulkan, memproses dan mengevaluasi informasi. Pengembangan ini menjanjikan kerja nyata untuk membantu organisasi meningkatkan hasil-hasil bisnis melalui manajemen SDM yang lebih efektif,” tambah dia.

Studi Kasus: Evidence-Based HR in Action

Pada 2002, Hewlett-Packard (HP) meluncurkan inisiatif baru untuk membangun dan me-maintain apa yang disebut budaya “customer-centric”. Para pemimpin HP menyadari, agar bisa lebih memahami hubungan yang kompleks antara karyawan, customer dan kinerja keuangan, perlu strategi baru untuk menjaring ide-ide dan talent dari berbagai fungsi yang ada. Berbagai tim antar-divisi terbentuk, dan menciptakan “business performance chain”.

Di Capital One, setiap aspek bisnis diinformasikan dengan sebuah pendekatan analitik untuk membantu fungsi HR. Sementara, HR sendiri menyediakan semua layanan sesuai fungsi “tradisonalnya” terkait dengan karyawan dan urusan benefit. Tim analitik membantu menganalisis fungsi-fungsi bisnis yang lain, menciptakan link antara praktik HR dengan kinerja perusahaan.

Universitas Harvard menginginkan transisi HR dari sekedar fungsi pendukung menjadi lebih strategis dalam menyokong komitmen organisasi dalam menyempurnakan pembelajaran dan riset. Masalahnya, fungsi HR terpusat sehingga proses staffing, pengembangan karyawan dan manajemen kinerja menjadi terkendala. Kini, Harvard melakukan desain ulang atas proses rekrutmen dan mengimplementasikan perangkat assessment, dan sejumlah inisiatif lainnya.

Tags: