CSR Tak Pengaruhi Keputusan Calon Karyawan

Belakangan ini, isu CSR ramai diperbincangkan di Tanah Air menyusul rencana pemerintah untuk memasukkan tanggung jawab sosial perusahaan sebagai kewajiban yang diatur dalam undang-undang. Sebuah survei menemukan bahwa calon karyawan sendiri tidak terlalu peduli apakah perusahaan yang akan dimasukinya memiliki program CSR.

Menurut survei yang dilakukan oleh perusahaan rekrutmen Hudson di Amerika Serikat, meskipun tiga perempat karyawan melihat bahwa kepedulian perusahaan pada masyarakat di sekitarnya penting, 7 dari 10 tidak mempertimbangkan hal itu ketika mereka memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan.

Faktanya, 1 dari 10 (atau 7%) dari 2000 yang disurvei mengaku tidak pernah menolak (bekerja di) perusahaan yang minim atau bahkan tidak memiliki program CSR. Kendati demikian, hampir separo (46%) masih percaya bahwa hal itu penting bagi organisasi.

Lebih jauh, mereka juga tampak mengapresiasi kesempatan-kesempatan untuk terlibat dalam masyarakat. Di antara 46% karyawan yang bekerja di perusahaan yang memiliki program CSR, hampir dua per tiga berpartisipasi.

“Meskipun ROI dari inisiatif CSR susah diukur, karyawan berharap pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja memberi timbal-balik pada masyarakat dan menghargai kesempatan untuk menjadi bagian darinya,” ujar VP HR Hudson Peg Buchenroth.

“Berpartisipasi dalam aktivitas yang bersifat amal tidak hanya dengan membangun tim yang kuat, tapi juga membuat individu (karyawan) merasa bahwa mereka juga ikut membantu organisasi memberi timbal-balik kepada masyarakat,” tambah dia.

Sebelumnya, sebuah riset lain mengungkapkan bahwa karyawan yang puas dengan komitmen CSR perusahaannya, cenderung lebih positif, lebih merasa terikat dan lebih produktif dibandingkan dengan karyawan yang bekerja di perusahaan yang tidak memiliki program tanggung jawab sosial.

Menurut penelitian yang dilakukan Sirota Survey Intelligence itu, komitmen yang besar terhadap CSR berdampak luas pada sikap-sikap karyawan, dan membantu mengembangkan pandangan-pandangan positif terhadap pimpinan perusahaan

Baru-baru ini, CSR menjadi isu yang hangat di tingkat internasional. Tak kurang dari Sekjen PBB dalam sebuah pertemuan tentang Global Compact di Swiss mengkritik perusahaan tidak mempunyai kepedulian terhadap persoalan sosial seperti lingkungan hidup, hak asasi manusia dan community development.

CSR yang selama ini dilakukan berdasarkan prinsip sukarela dan kedermawanan, dianggap tidak efektif. Hal itu terbukti dengan meningkatnya krisis pemanasan global, ketimpangan ekonomi, kemiskinan, mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, serta persoalan sosial lainnya.

Di Indonesia, inisiatif pemerintah untuk mengatur kewajiban CSR dalam Undang-undang (UU) Perseroan Terbatas dan UU Penanaman Modal menyulut debat dan kontroversi dari kalangan korporat maupun pengamat. Hasil penelitian di atas kiranya bisa menjadi sedikit masukan, perlukah melegalkan CSR.

Tags: