Change Management Bikin Pusing?

Mengelola perubahan masih dianggap yang terpenting dalam agenda kepemimpinan perusahaan. Tapi, jajaran manajer menengah kini mulai jenuh dengan agenda tersebut, dan organisasi dihadapkan pada resistensi yang terus meningkat berkaitan dengan hal itu.
Studi yang dilakukan atas 900 orang eksekutif oleh lembaga konsultan tempat kerja BlessingWhite menemukan bahwa dalam konteks organisasi yang harus berubah, tim kepemimpinan yang sukses dilihat sebagai sesuatu yang sangat menantang.
CEO BlessingWhite Christopher Rice bahkan menyimpulkan, mengelola perubahan sering dilihat sebagai isu utama dalam pengembangan kepemimpinan.
“Pada dasarnya studi ini mengingatkan bahwa pendekatan-pendekatan yang biasa untuk pengembangan kepemimpinan tidak memberikan banyak solusi. Data terakhir memperlihatkan betapa memusingkannya perubahan bagi banyak tim manajemen. Ditambah lagi, banyak manajer level menangah mengaku menjadi bosan.”
Studi tersebut melibatkan jajaran eksekutif yang mengelola para profesional teknis di lebih dari 30 organisasi di empat benua. Ditemukan pula bahwa organisasi dewasa ini semakin resisten untuk berubah, khususnya pada level manajemen-menengah.
“Jajaran direktur dan CEO mungkin cukup tangkas, tapi menggerakkan eselon yang lebih bawah perlu usaha yang lebih keras. Selalu ada tuntutan untuk tidak kaku dan fleksibel, tapi tidak cukup petunjuk bagaimana mewujudkan itu,” ujar Rice.
Diingatkan, setiap perusahaan besar melakukan pengembangan kepemimpinan dewasa ini, akan dihadapkan pada tujuan-tujuan dan metode-metode yang begitu beragam.  Biasanya, demikian Rice, program-program kepemimpinan tak lebih sekedar persiapan untuk mekanisme kontrol.
“Organisasi harus fokus pada substansi dan isi, itu yang sebenarnya penting. Di atas semua itu, bagian terpentingnya adalah bagaimana tim manajemen papan atas memastikan arah strateginya,” saran dia.
Strategi tersebut, lanjut Rice, harus dikomunikasikan seorang orang dalam organisasi tahu apa yang harus mereka lakukan, dan cukup peduli bahkan jika program itu sampai menganggu rutinitas. Implikasinya, mungkin akan membingungkan antara kepemimpinan sebagai training murni atau isu pengembangan.
“Dalam pengalaman kami, eksekutif-eksekutif yang terbaik adalah murid-murid dari dari kepemimpinan mereka sendiri. Mereka siap pada petualangan mereka, dan konsultan bisa membantu memobilisasi pemain-pemain lain dalam organisasi,” ujar Rice.

Tags: