CEO Bukan Pengontrol Segala

Jika Anda seorang entrepreneur, seberapa besar peran Anda dalam mengontrol kinerja perusahaan? Pertanyaan ini barangkali membuat Anda panik dan sadar bahwa selama ini Anda tak banyak mengontrol jalannya perusahaan. Tapi, jangan salah. Asumsi yang selama ini dipegang oleh dunia bisnis bahwa seorang CEO harus selalu mengontrol penuh kehidupan perusahaan sesungguhnya hanya separo benar.

Demikian menurut Profesor bidang perilaku organisasi pada Universitas Stanford Jeffrey Pfeffer yang menjadi anggota tim penulis buku Hard Facts, Dangerous Half-Truths and Total Nonsense: Profiting from Evidence-Based Management. Dalam kenyataannya, menurut dia, seorang CEO memimpin sejumlah besar orang yang tak (semua) diketahuinya di mana pengaruhnya (terhadap orang-orang yang dipimpinnya itu) bisa diabaikan. Dan, orang-orang yang tak dikenal itulah yang pada akhirnya mendikte kinerja organisasi.

“Ada situasi-situasi, fluktuasi, gerakan-gerakan dari kompetitor dan hal-hal tertentu yang tidak (perlu) berada di bawah kontrol nyata (dari pemimpin),” kata dia.  Pfeffer percaya bahwa mitos CEO sebagai figur heroik yang (harus) mengontrol seluruh segi perusahaan merupakan bagian dari masalah dunia bisnis dewasa ini. Namun, bukan berarti bahwa para pemimpin perusahaan itu tidak membuat perbedaan -kepemimpinan mereka membentuk budaya perusahaan sejak awal. Yang hendak ditekankan Pfeffer, pengaruh pimpinan perusahaan pada kinerja sebenarnya tidaklah besar. Mengekalkan mitos kepemimpinan pada akhirnya hanya akan mengganggu bottom line.

“Tantangan besar setiap perusahaan, baik besar, menengah maupun kecil, adalah memastikan setiap anggota organisasi mengambil tanggung jawab baik secara individual maupun kolektif untuk kebaikan mencapai tujuan,” kata Pfeffer. “Jika dalam organisasi terdapat pemimpin yang kuat dan dominan, (untuk setiap masalah) orang akan melihat kepadanya dan merasa, ini bukan kerjaanku, ini bukan urusanku.”

Diakui, pengaruh seorang pucuk pimpinan, atau pendiri, masih tetap akan kuat ketika perusahaan telah berjalan dan tumbuh menjadi besar. Yang perlu diingat, kuncinya adalah mengetahui di bagian mana atau dalam hal apa saja pengaruh itu bekerja. Seorang CEO, atau pimpinan perusahaan, atau entrepreneur tidak bisa mengontrol faktor-faktor eksternal. Lebih baik mereka mengontrol arah perusahaan secara umum.

Pfeffer yakin, para pemimpin dewasa ini cukup percaya diri untuk beraksi tapi cukup rendah hati untuk menyadari bahwa mereka tidak mengetahui segalanya. Mereka sebaiknya membiarkan karyawan (ikut) mempengaruhi pengambilan keputusan dan mendengarkan ketika mereka mengungkapkan pendapatnya. “Jika semua keputusan Anda sendiri yang membuat, lebih baik Anda meng-hire orang-orang bodoh saja, itu lebih murah,” tukas Pfeffer.

Tags: