Bukan “Putra Mahkota” Tapi Pengaderan Berjenjang

PT Astra International Tbk sebagai perusahaan panutan dalam manajemen SDM tidak mengenal istilah “putra mahkota”. Melainkan, menerapkan sistem pengaderan yang berjenjang dan disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan organisasi, mulai dari level staf, supervisor, manajer, general manager, hingga direktur.

“Tidak ada istilah putra mahkota di Astra,” tegas CEO Astra Prijono Sugiarto (49). Ditegaskan pula bahwa tidak ada yang berubah di Astra meskipun baru saja berganti CEO dan pemegang saham. Komitmen manajemen AI tetap berpijak pada 3W, yakni winning concept, system, and team.

“Siapa pun yang di posisi itu bisa menjalankannya dengan baik karena ada visi dan misi yang jelas dari pendiri,” tandas dia seperti dilaporkan Kompas yang terbit di Jakarta, Kamis (25/3/2010).

Prijono mengakui, kepergian almarhum Michael D Ruslim yang mendadak tidak hanya kehilangan untuk Grup Astra, tapi juga kehilangan untuk para stakeholder dan bangsa ini. Namun, meski kepergiannya mendadak, tidak ada guncangan karena semuanya sudah tertata dengan baik.

“Oleh sebab itu, kepercayaan yang diberikan pemegang saham kepada saya menjadi dasar untuk melanjutkan dan mengembangkan apa yang sudah dirintis Pak Michael,” ujar dia seraya mengungkapkan bahwa aset perusahaan terus berkembang, bisnis inti tetap berjalan, tanpa mengabaikan kepentingan dan tanggung jawab perusahaan terhadap bangsa, masyarakat, dan 130.000 karyawan.

Lebih jauh Prijono memaparkan, dalam mengelola perusahaan, semua aspek perlu diintegrasikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik dari sisi strategis, produksi, pemasaran, SDM, maupun keuangan. “Ke depan, tentunya kami tetap akan memperkuat bisnis otomotif dengan memperkuat jaringan distribusi dan pendanaannya,” ujar dia.

“Sementara di agrobisnis, kami melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi yang selektif, sedangkan di alat berat kami terus secara aktif melakukan akuisisi untuk tambang batu bara. Di sektor infrastruktur, Astra terus mengembangkan kompetensi di jalan tol dan penyediaan air minum,” sambung Prijono.