Budaya Target-dan-Reward Perlu Diubah

Bukan bermaksud mengembangkan budaya saling menyalahkan kalau belakangan ini orang mulai bicara tentang sebab-sebab krisis keuangan yang melanda dunia, dan menuding perilaku para eksekutif perusahaan sebagai pemucinya. Namun, ada baiknya semua pihak memang saling instrospeksi. Kini, giliran orang HR yang kena tuding sebagai bagian dari pemicu kebangkrutan lembaga-lembaga finansial global.
Kalangan industri keuangan di Inggris menyebut para pimpinan HR di lembaga-lembaga finansial ikut bersalah atas munculnya krisis perbankan. Dikatakan, pemicunya tak lain adalah manajemen SDM yang buruk dan budaya kinerja berbasis-target, dimana kedua hal tersebut merupakan area fungsi HR.
Kredit macet di Inggris yang menyebabkan krisis keuangan mencapai puncaknya pekan lalu, ditandai antara lain dengan merger dua buah bank bsar, yakni Lloyds TSB and HBOS . Di samping itu, pemerintah setempat juga telah menyalurkan dana bantuan pada sebuah bank bernama RBS.
Direktur lembaga konsultan PWL Paul Kearns dengan nada keras mempertanyakan, “Siapa pihak yang memberikan pinjaman tanpa jaminan keamanan? Bagaimana perusahaan-perusahaan itu dikelola?”
Kearns menduga, ada sebuah budaya tertentu di lembaga-lembaga keuangan yang tidak memungkinkan orang untuk mempertanyakan sesuatu secara terbuka.
Sementara, pejabat nasional pada lembaga bernama Uniter, Rob MacGregor mengatakan, problem besarnya terletak pada budaya ketenagakerjaan yang berlaku di sektor keuangan. Yakni, dikembangkannya budaya sales yang agresif, dimana kebijakan-kebijakan HR telah membentuk budaya target-dan-reward.
“Praktik ketenagakerjaan terlalu menekankan sistem carrot and stick,” ujar MacGregor. “Karyawan yang gagal mencapai target tidak akan mendapatkan bonus, atau bahkan mungkin dikenai sanksi disipliner.”
Dalam hemat MacGregor, diperlukan langkah yang berani dari kalangan profesional HR untuk mengurangi praktik semacam itu. “Kita perlu mengubah budaya. Para direktur HR harus bisa lebih independen dan dinamis untuk mendorong budaya baru yang melawan praktik-praktik yang selama ini berlaku.”

Tags: