BRR NAD-Nias Butuh SDM Sekelas Pilot Tempur

Sebagai lembaga yang menangani krisis, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD-Nias harus menghadapi kenyataan bahwa ada pihak-pihak yang kurang puas oleh kinerja mereka lalu melakukan demo dan memberi kesan negatif. Pada saat yang sama, banyak berita negatif dimuat di berbagai media, termasuk soal korupsi dan rendahnya serapan dana. Kondisi ini bisa membuat karyawan kurang nyaman bekerja.

Puncak dari semua itu adalah meletusnya peristiwa kerusuhan massa di kantor BRR NAD, Rabu (20/9/06) kemarin yang antara lain mengakibatkan kerusakan mobil dan penyanderaan Kepala BRR NAD-Nias Kuntoro Mangkusubroto. Dalam kondisi seperti itu, bagian Layanan SDM BRR NAD-Nias dituntut kerja kerasnya untuk lebih memperhatikan karyawan.

Budaya Perusahaan
BRR NAD-Nias adalah lembaga yang dibentuk pada Mei 2005 untuk merehabilitasi dan membangun daerah Nangroe Aceh Darusalam (NAD) dan Nias yang luluh lantak dihantam tsunami akhir 2004 lalu. Karena sifatnya darurat, maka segala rekrutmen dilakukan secara cepat. Karyawan dengan berbagai latar belakang budaya kerja pun berbaur di sini.

Tiga sumber utama karyawan BRR NAD-Nias adalah pegawai negeri, swasta, dan LSM baik lokal maupun asing yang berjumlah 500-an. ”Itu pun masih ditambah dengan karyawan yang belum pernah bekerja,” kata Kepala Layanan SDM BRR NAD-Nias Saiful Syahman saat ditemui PortalHR di kantornya di Banda Aceh, Jumat (15/9/06).

”Tidak mudah menemukan benang merah antara ketiga latar belakang budaya kerja, yang kemudian menjadi kesepakatan bersama dan dijalankan secara optimal,” kata lelaki yang menduduki jabatannya sejak Februari 2006 itu seraya menambahkan, membangun budaya perusahaan menjadi tantangan berat lain yang harus dihadapi organisasi raksasa dengan tanggung jawab sangat besar namun waktu hidupnya terbatas tersebut.

Rekrutmen
Tantangan berikutnya masalah rekrutmen. Rencana awal, BRR NAD-Nias akan dibuat ramping, dengan 150-200 karyawan. Namun, karena rumitnya masalah di lapangan serta luasnya rentang tugas skala propinsi, membuat rencana itu tidak berjalan. Kini, jumlah karyawan BRR NAD-Nias naik menjadi 800 orang. Bahkan ada kekhawatiran, bisa-bisa membengkak menjadi 2.000 orang.

”Oxfam yang bertugas di Aceh dengan tanggung jawab dan budget lebih kecil daripada BRR NAD-Nias saja jumlah karyawannya hampir sama dengan kami saat ini,” ujar Saiful membandingkan. Tidak heran jika bagian rekrutmen tergolong yang paling sibuk saat ini. Tiap bulan mereka bisa merekrut 20-60 karyawan baru.

”Tantangannya, BRR NAD-Nias harus mencari profesional yang tidak mengejar karir,” kata Saiful seraya menambahkan, dengan umur lembaga yang hanya empat tahun, organisasi yang dipimpinnya merupakan organisasi proyek. Oleh karena itu, semua karyawan berstatus kontrak per satu tahun. Mereka harus siap untuk tidak diperpanjang.

Terkait dengan itu pula, selain memperhatikan soal kompetensi, BRR NAD-Nias juga harus mengutamakan penduduk lokal. Saat ini, sekitar 65 persen karyawan adalah penduduk lokal. Prosentase ini, menurut Saiful, akan terus diperbesar seiring waktu. ”Kami harus pintar memadukan kompetensi dan keharusan memakai tenaga lokal,” kata dia.

Motivasi
Kini, meski waktu hidupnya tinggal dua tahun, BRR NAD-Nias tetap berusaha menerapkan manajemen kinerja secara baik. ”Sebelumnya, karena kondisi darurat, dokumen performance saja tidak ada,” kata Saiful. Kini, sambung dia, kondisi darurat tidak bisa dijadikan alasan lagi. Saat ini misalnya, timnya sedang giat memberikan workshop pembuatan jobdesk.

Dengan berbagai tantangan berat itu, maka tugas utama bagian SDM sebenarnya bisa dirangkum menjadi satu, yakni menjaga motivasi karyawan. Menurut Saiful, BRR NAD-Nias butuh karyawan yang di atas rata-rata. Ibarat pilot, bukan pilot pesawat biasa, tetapi pilot pesawat tempur. Kemampuan terpenting seorang pilot adalah bisa landing dan take-off di landasan normal. “Yang kami butuhkan pilot yang bisa take-off dan landing di kapal induk,” kata dia.

Tags: